Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah memulai Juli dengan optimisme setelah keluar sebagai valuta dengan kinerja terbaik di Asia dengan capaian return 3,84% selama semester I-2023. Ekspansi manufaktur Indonesia yang mencetak rekor tertinggi dalam 18 bulan terakhir juga sebenarnya bisa memberi energi lebih besar bagi penguatan nilai rupiah.

Akan tetapi, sentimen global kemungkinan masih akan lebih besar menekan pamor mata uang Indonesia dengan naiknya probabilitas kenaikan bunga acuan Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS) di sisa tahun ini. Itu akan memberi tekanan besar pada pergerakan nilai tukar rupiah dalam menghadapi dolar AS hari ini.

Inflasi inti Personal Consumption Expenditure (PCE) Amerika pada Mei lalu hanya turun tipis menjadi 4,6% dari 4,7% di bulan sebelumnya di kala inflasi umum PCE negeri itu mencatat perlambatan sesuai ekspektasi pasar di level 3,8%.

Data terbaru indeks yang menjadi acuan utama kebijakan bunga The Fed tersebut langsung melonjakkan ekspektasi pelaku pasar bahwa kenaikan Fed fund rate pada akhir Juli ini hampir pasti terjadi dengan probabilitas hingga 87,4%. Yaitu naik ke level 5,5%.

Sementara itu, para pelaku pasar dan analis juga semakin yakin The Fed akan melanjutkan kenaikan bunga acuan sebesar 25 bps pada November atau Desember nanti ke level 5,75% dengan probabilitas lebih dari 30%. Ekspektasi itu akan melejitkan pamor dolar Amerika dan secara otomatis menekan mata uang yang menjadi lawannya. 

Pairing USD/IDR pada perdagangan terakhir Juni ditutup di level Rp14.993/US$ mengindikasikan penguatan nilai tukar rupiah 22 poin. Namun, situasi itu mungkin akan berbalik hari ini dengan sentimen positif dari dalam negeri yang belum cukup kuat menahan tekanan eksternal sehingga kemungkinan rupiah akan bergerak semakin merosot ke rentang Rp15.000-Rp15.100/US$, menurut perkiraan Samuel Sekuritas. Adapun tingkat imbal hasil SUN/INDOGB 10 tahun diprediksi akan naik ke 6,3%-6.4%.

Secara teknikal nilai rupiah hari ini berpotensi melemah dengan target koreksi menuju area level Rp15.050/US$ yang merupakan support terdekat sampai dengan Rp15.104/US$. Apabila kembali break support tersebut, berpotensi melanjutkan pelemahan ke MA-200 pada area Rp15.217/US$ sebagai support terlemahnya.

Jika nilai rupiah terjadi penguatan, resistance menarik dicermati pada level Rp14.951/US$ dan resistance selanjutnya ke MA-50 pada area Rp14.857/US$ dalam tren jangka menengah.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Senin 3 Juli (Divisi Riset Bloomberg Technoz)

-- dengan analisis teknikal dari M. Julian Fadli.

(rui)

No more pages