Bloomberg Technoz, Jakarta - Kekakuan hubungan antara PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Demokrat kian memudar kala hari ini Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu. Diketahui penjajakan pertemuan Ketua DPP Bidang Politik dan Keamanan PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dengan AHY yang merupakan putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) itu memang sudah disiapkan dalam sepekan terakhir.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat AHY mengatakan, pertemuan silaturahmi itu berjalan baik dan terjadi dalam suasana yang akrab. AHY bahkan memuji sosok Puan sebagai politikus perempuan yang hebat.
"Mbak Puan contoh politisi perempuan hebat lengkap rekam jejaknya, parlemen dan pemerintah (jadi) banyak yang bisa didiskusikan," kata AHY di Hutan Kota Plataran Senayan, Jakarta, Minggu (18/6).
Tak hanya pujian AHY, Puan juga merespons dengan positif. Dia mengatakan keduanya ingin relasi seperti saudara bahkan kakak-adik. Pertemuan dengan AHY kata Puan pasti bukan yang pertama dan terakhir.
"Tadi pertemuan sejam lebih enggak terasa kalau enggak ingat waktu banyak sekali yang diomongin, seperti kakak adik. AHY bilang mbak boleh ya saya anggap kakak saya? Ya boleh dong," kata Puan yang juga Ketua DPR itu dalam konferensi pers bersama.

Yang menarik, Puan juga menyinggung pesan Megawati Soekarnoputri kepadanya sebelum dia menemui putra sulung SBY tersebut.
"Pesen dari ibu Mega (Megawati) katanya senyum enggak boleh ketemu berdua tegang. Senyum kan salaman akrab kekeluargaan silaturahmi. Ini anak-anak muda yang akan membawa insyallah membangun negara membawa masa depan. Kami berdua sepakat silaturahmi akan dilakukan. Kalau enggak ada kesamaaan namanya juga mencari pola supaya bisa sama-sama,"kata dia lagi.
Pada akhir pertemuan keakraban antara Puan dan AHY juga tampak dengan adanya swafoto bersama dan juga berfoto dengan tanda jari yang menunjukkan lambang cinta ala artis drama Korea. Hal itu dilakukan bersama-sama dengan para kolega dua partai yang hadir.
Diketahui bukan rahasia lagi bahwa relasi antara Megawati dan SBY tak begitu akur setelah SBY maju di Pemilu 2004 dan menang mengalahkan capres Megawati saat itu. Pada saat itu, SBY memang merupakan Menko Polhukam di kabinet Mega dan kemudian maju berpasangan dengan Jusuf Kalla diusung Partai Demokrat dan koalisinya.
Sejak saat itu pertemuan keduanya secara bilateral tak pernah terjadi. Dalam sejumlah kesempatan saat SBY memerintah, Mega juga sangat jarang hadir termasuk di acara peringahatn HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Pada pidato kenegaraan di gedung DPR saat SBY menjadi presiden juga hampir tak pernah disambangi Mega. Rekam jejak keduanya bertemu amat minim meski dalam hajatan yang mengundang tamu kehormatan para mantan presiden.

Bahkan PDIP sendiri juga pernah menyatakan bahwa tak akan mudah bekerja sama dengan Partai Demokrat. Hal itu pernah diutarakan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tahun lalu sebagaimana direkam media massa.
"Pendukung PDIP ini adalah rakyat wong cilik yang tidak suka berbagai bentuk kamuflase politik. Rakyat apa adanya rakyat yang bicara dengan bahasa rakyat sehingga aspek kerayatan dilakukan. Kalau saya pribadi sebagai sekjen memang tidak mudah untuk bekerja sama dengan Partai Demokrat karena di berbagai dinamika politik menunjukkan hal itu," kata Hasto kepada media.
Namun kini relasi antara PDIP-Demokrat mulai cair kala bursa koalisi bakal calon wakil presiden (cawapres) Pemilu 2024 dibongkar pasang oleh masing-masing koalisi. Tiga calon presiden baik Ganjar Pranowo dari PDIP Cs, Prabowo Subianto dari Koalisi Indonesia Raya dan Anies Baswedan dari Koalisi Perubahan belum mengumumkan nama cawapres. AHY sendiri digadang-gadang menjadi salah satu nama cawapres yang sedang beredar.
Mengenai potensi AHY menjadi cawapres Ganjar menurut pengamat politik Ray Rangkuti mungkin saja terjadi. Menurut dia, kini sudah generasi baru sehingga hubungan SBY-Mega yang tak manis itu amat bisa dikesampingkan.
PDIP kata Ray melakukan strategi yang pada satu sisi bila AHY berhasil ditarik maka akan bisa menggagalkan Koalisi Perubahan mendaftarkan Anies ke KPU lantaran kurang syarat pengusung. PDIP juga menurutnya melihat kegamangan soal cawapres yang sedang terjadi di Koalisi Perubahan dengan buru-buru melirik AHY.
Hal ini kata Ray bisa terjadi meskipun diketahui hubungan SBY dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kurang akur. Namun kini sudah muncul generasi yang berbeda.
"Apakah PDIP bisa bergabung dengan AHY? Bisa, ini kan generasinya beda. Ini udah generasinya Puan sama AHY, bukan generasinya SBY-Megawati," kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti kepada Bloomberg Technoz pada Kamis (8/6).
(ezr)