Bloomberg Technoz, Jakarta – PT Waskita Karya (Persero) Tbk menunda pembayaran Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2018 seri B, di tengah upaya perusahaan untuk merestrukturisasi utangnya.
SVP Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan penundaan tersebut dikarenakan saat ini perseroan sedang dalam proses peninjauan ulang kesepakatan restrukturisasi atau master restructuring agreement (MRA).
“Saat ini perseroan sedang dalam masa standstill yang menerapkan equal treatment kepada seluruh kreditur dan pemegang obligasi nonpenjaminan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (17/6/2023).
Dengan demikian, kata Ermy, emiten konstruksi berkode saham WSKT itu akan menunda penuntasan kewajiban pembayaran yang jatuh tempo pada Agustus 2023, termasuk pembayaran bunga dan/atau pokok atas kewajiban keuangan terhadap seluruh pemegang obligasi dan pemberi pinjaman perbankan.
“Ini dalam rangka proses review secara komprehensif terhadap skenario modifikasi MRA yang diperkirakan selesai hingga Agustus 2023" ujar.
Kendati menunda pembayaran obligasi, WSKT berjanji tetap akan menuntaskan proyek-proyek eksisting.
"Perseroan terus berkomitmen terhadap penguatan implementasi tata kelola perusahaan dan transformasi bisnis dengan mengedepankan bisnis yang profitable, sustainable, serta penguatan manajemen risiko,” kata Ermy.

Sekadar catatan, penyelesaian restrukturisasi utang menjadi krusial bagi WSKT saat ini. Tanpa restrukturisasi, mustahil perseroan dapat melunasi seluruh kewajiban bermodal kas dan setara kas yang per akhir Maret 2023 bernilai Rp7,51 triliun.
Di sisi lain, arus kas WSKT juga masih negatif. Ini tecermin dari kas bersih dari aktivitas operasi yang justru minus Rp467,63 triliun per Maret 2023, membengkak sekitar 223,21% secara tahunan dari sebelumnya minus Rp144,68 triliun.
Sementara itu, utang bank jangka panjang WSKT mencapai Rp46,53 triliun. Utang ini berasal dari bank pihak berelasi senilai Rp28,07 triliun dan pihak ketiga sejumlah Rp18,46 triliun.
Kemudian, utang obligasi mencapai Rp5,46 triliun. WSKT juga menanggung kewajiban atas sukuk mudharabah senilai Rp1,14 triliun. Utang tersebut belum termasuk kucuran kredit dari lembaga keuangan non bank. Nilainya mencapai Rp5,03 triliun.
Sejauh ini, restrukturisasi yang dilakukan berupa perpanjangan tenor. Artinya, nilai pokok utang tidak mengalami perubahan.
Belakangan, Waskita Karya sedang menjadi sorotan karena dituding oleh Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo melakukan manipulasi laporan keuangan.
"Laporan keuangan tidak sesuai dengan kondisi riil. Dilaporkan seolah-olah untung bertahun-tahun, padahal cashflow tidak pernah positif," jelas Tiko, sapaan akrab wakil menteri tersebut belum lama ini.
Meskipun tidak mengungkapkan secara terperinci manipulasi yang dilakukan, Tiko memberi petunjuk dua hal. Pertama, Waskita Karya menunjukan seolah-olah untung. Kedua, arus kas tidak pernah positif.
(wdh)