Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga minyak sawit mentah (CPO) turun sepanjang bulan lalu. Dengan demikian, harga komoditas ini membukukan koreksi bulanan selama 3 bulan beruntun.
Sepanjang Mei, harga CPO di Bursa Malaysia melemah 4,1% secara point-to-point. Pada perdagangan terakhir Mei, harga CPO ditutup di MYR 3.201/ton, terendah sejak November 2020.
Ini membuat harga CPO turun selama 3 bulan berturut-turut. Pada April, koreksinya adalah 11,25% dan bulan sebelumnya minus 9,2%.

Mengutip catatan Fitch Ratings, harga CPO kemungkinan masih dalam tren turun. Pada akhir tahun, harga CPO diperkirakan ada di US$ 700/ton, jauh di bawah rerata kuartal I-2023 yang US$ 915/ton.
“Kenaikan harga CPO pada akhir 2022 didukung oleh ekspektasi kenaikan konsumsi biodiesel dan penurunan ekspor dari Indonesia karena tingginya curah hujan. Namun, data produksi Malaysia dan Indonesia menunjukkan tren kenaikan,” sebut catatan Fitch.
Ramalan terjadinya El Nino tahun ini menjadi tekanan tambahan bagi harga CPO. Secara historis, El Nino menjadi sentimen negatif bagi harga CPO. Pada 2018-2019, harga CPO anjlok menjadi rata-rata US$ 535/ton saat kedatangan El Nino.
Koreksi harga CPO berdampak ke emiten perkebunan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang Mei, harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melemah 8,74% secara point-to-point.
Dalam periode yang sama, harga saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) amblas 10%, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) turun 5,42%, dan PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) anjlok 11,7%.
(aji)