Kebijakan Tarif Trump Uji Ketahanan Ekonomi Asia
News
31 March 2025 16:20

Katia Dmitrieva dan James Mayger - Bloomberg News
Bloomberg, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menerapkan kebijakan tarif timbal balik yang menjadi tantangan besar bagi perekonomian Asia. Kawasan ini selama puluhan tahun bertumpu pada ekspor ke AS dan sistem perdagangan global dengan hambatan rendah.
Sejak kembali menjabat, Trump menargetkan China dengan mengenakan tarif 20% pada impor dari negara tersebut, menandai dimulainya kembali perang dagang yang sempat terjadi di masa kepemimpinan pertamanya. Kali ini, ia juga menuding Vietnam, Korea Selatan, Jepang, dan India menerapkan tarif tinggi atau memiliki surplus perdagangan yang tidak seimbang dengan AS—atau keduanya sekaligus.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pada Maret bahwa kebijakan tarif timbal balik yang dijadwalkan mulai berlaku pada 2 April akan menyasar negara-negara yang disebut "Dirty 15" yang memiliki arus perdagangan dan hambatan tinggi terhadap AS.

Bessent tidak merinci negara mana saja yang masuk dalam daftar tersebut. Namun, menurut laporan Bloomberg Economics, ada 15 negara yang menyumbang lebih dari tiga perempat defisit perdagangan AS, dengan sembilan di antaranya berasal dari Asia. Ini berarti, meskipun tarif diberlakukan secara global, dampaknya akan terasa paling besar bagi perekonomian Asia yang bernilai US$41 triliun.