Bloomberg Technoz, Jakarta - Penguatan rupiah dalam perdagangan kemarin di tengah reli harga saham yang berlanjut serta kebangkitan pasar surat utang, agaknya akan berumur pendek.
Hari ini, hari terakhir perdagangan sebelum periode libur panjang perayaan Idulfitri dimulai, kemungkinan akan memberikan tantangan lagi pada rupiah. Ketidakpastian pasar global kembali meningkat mendekati tenggat waktu pemberlakuan kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump pada awal bulan April.
Pengumuman terbaru dari Trump soal pengenaan tarif 25% pada semua mobil yang tidak diproduksi di AS berlaku mulai 2 April, membuat pasar kembali gelisah.
Meski, Trump mengatakan bahwa pengumuman tarif balasan terhadap semua negara pada 2 April nanti akan lebih rendah dari perkiraan pasar. Indeks dolar AS ditutup menguat 0,35% dan pagi ini melanjutkan penguatan dengan bergerak di kisaran 104,63.
Yield atau imbal hasil surat utang AS, US Treasury, meningkat di semua tenor di mana yield acuan 10Y saat ini ada di 4,34%. Indeks saham di Wall Street juga melemah di mana Nasdaq anjlok 2,04% dan S&P 500 turun 1,12%.
Lanskap global itu seolah menyalakan lagi sentimen risk-off yang akan menekan aset-aset di emerging market, termasuk rupiah.
Sinyal dari pasar offshore mengonfirmasi hal tersebut. Pagi ini, kontrak NonDeliverable Forward (NDF) bergerak di Rp16.639/US$ setelah kemarin ditutup melemah 0,11%.
Level itu cukup berjarak dengan posisi penutupan rupiah spot kemarin yang ada di Rp16.580/US$, mengisyaratkan potensi pelemahan itu terbuka di pasar spot valas hari ini.
Pada pembukaan pasar Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Ringgit, won serta baht tertekan oleh dolar AS di zona merah. Sementara yuan offshore, yen serta dolar Singapura dan Hong Kong masih menguat tipis.
Potensi pelemahan rupiah hari ini mungkin akan termoderasi apabila gelombang pembelian saham oleh asing masih berlanjut setelah kemarin membukukan net buy Rp2,6 triliun.
Pelemahan rupiah juga mungkin akan terbatas bila animo belanja investor, terutama asing, di pasar surat utang kembali besar.
Solikhin M. Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, menilai, kejatuhan rupiah sampai menjebol level terlemah tahun 1998 pada perdagangan sebelumnya, tak berarti mencerminkan fundamental ekonomi serapuh di masa krisis tersebut.
"Kondisi saat ini masih jauh dari krisis 1998. Situasi saat ini sudah jauh berbeda dan kita sudah tidak rentan seperti dulu," kata dia.
Ketika ditanya apakah situasi saat ini bisa memburuk seperti kondisi tahun 1998, Solikhin mengatakan, ekonomi RI masih stabil tumbuh 5%, inflasi rendah ditambah rasio utang publik dan swasta terkendali.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah masih berpotensi melemah, mencermati support terdekat menuju Rp16.600/US$ yang menjadi support pertama. Target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.650/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp16.700/US$ sebagai support paling terkuatnya untuk sementara.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level Rp16.550/US$ dan selanjutnya Rp16.480/US$ secara potensial.

(rui)