Sepanjang tahun ini, rupiah keluar sebagai mata uang Asia dengan kinerja terburuk dengan pelemahan 2,85% year-to-date, di tengah capaian kinerja valuta Asia yang mayoritas menguat pada periode yang sama.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak reli mengesankan dengan penguatan kini mencapai 3,5% sejurus dengan arus pembelian yang marak di saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan.
Saham BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, juga saham konglomerat Prajogo Pangestu seperti BREN, TPIA, menyokong penguatan indeks.
Sementara di pasar surat utang negara, berdasarkan pantauan data realtime di OTC Bloomberg, mayoritas harga obligasi negara menguat ditandai dengan penurunan tingkat imbal hasil.
Yield 2Y turun 2,9 bps ke level 6,762%. Sedangkan tenor 5Y bahkan turun 11,1 bps kini di 6,882%. Begitu juga tenor 10Y turun yield-nya 2,6 bps menyentuh 7,186%.
Sementara tenor panjang 20Y dan 30Y terpangkas masing-masing 4 bps dan 2,4 bps di 7,215% dan 7,153%.
Berbalik menguatnya rupiah terutama karena faktor domestik di mana pemodal asing terindikasi mulai kembali berbelanja di bursa saham setelah 8 hari perdagangan beruntun mencetak net sell.
Sedangkan di pasar surat utang yang tertekan sejak pekan lalu, sepertinya investor mulai masuk lagi melihat tingkat imbal hasil yang sudah menarik.
Hari ini dua bank pelat merah yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham.
Sementara beberapa emiten besar telah mengumumkan rencana pembelian kembali atau buyback saham mereka dengan nilai anggaran yang cukup besar. Bank swasta terbesar di Indonesia, misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengantongi rencana buyback saham senilai Rp1 triliun.
Potensi pelemahan
Rebound rupiah jelang siang ini terjadi setelah hari sebelumnya rupiah terperosok menjebol level terlemah dalam 25 tahun terakhir atau sejak era krisis moneter tahun 1998. Pada perdagangan spot hari Selasa, rupiah mengalami overshooting alias melemah dengan cepat dan membuat Bank Indonesia menggelontorkan intervensi lebih besar di pasar spot valas, pasar forward domestik juga di pasar Surat Berharga Negara.
Para analis asingmemperkirakan nilai tukar rupiah akan merosot ke rekor terendah sepanjang masa dalam waktu dekat, terbebani kekhawatiran investor akan perkembangan politk dan ekonomi Indonesia.
Rupiah diperkirakan bisa melemah melampaui level Rp16.950/US$, level terlemah sepanjang masa yang pernah dipecahkan pada era krisis moneter 1998 silam, menurut perkiraan Mizuho Bank Ltd dan MUFG Bank Ltd, dilansir dari Bloomberg News.
Potensi pelemahan rupiah membesar di tengah kegelisahan para investor akan berbagai kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto yang tecermin dari berbagai kebijakan belanja.
Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengkhawatirkan rencana perluasan mandat Bank Indonesia yang dicemaskan bisa berdampak pada goyahnya independensi bank sentral. Pasar juga masih menghadapi ketidakpastian akan prospek fiskal Indonesia ke depan di tengah pelemahan pendapatan dan belanja yang besar.
"Pasar menjadi makin khawatiran tentang peningkatan risiko fiskal di Indonesia, mengingat banyak program sosial yang telah dilaksanakan oleh pemerintahan baru," kata Lloyd Chan, FX Strategist di MUFG.
Ia memperkirakan, para investor sudah bersiap memperkirakan rupiah bisa jatuh melampaui Rp17.000/US$ ketika Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan tarif pada awal April nanti ketika pasar keuangan libur panjang.
(rui)