Logo Bloomberg Technoz

Danny Lee - Bloomberg News

Bloomberg, Perusahaan otomotif China, BYD Co, mencatatkan pendapatan tahunan yang melampaui angka US$100 miliar, mengungguli Tesla Inc milik Elon Musk dalam hal pendapatan. Keberhasilan ini didorong oleh beragam mobil listrik dan hibrida berteknologi tinggi yang menarik minat konsumen.

Perusahaan yang berbasis di Shenzhen tersebut melaporkan pendapatan sebesar 777 miliar yuan (Rp1.781 triliun) untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember, meningkat 29% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini melampaui perkiraan analis sebesar 766 miliar yuan. Sementara itu, Tesla mencatatkan pendapatan US$97,7 miliar pada tahun 2024. Laba bersih BYD naik 34% menjadi 40,3 miliar yuan, juga lebih tinggi dari prediksi analis sebesar 39,5 miliar yuan.

Meski demikian, saham BYD turun 2,3% dalam perdagangan awal di Hong Kong pada Selasa (25/03/2025) pagi. Namun, secara keseluruhan, saham perusahaan ini telah naik 48% sepanjang tahun ini dan mencapai rekor tertinggi pekan lalu.

Pada kuartal keempat 2024, BYD mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 73%, mencapai 15 miliar yuan, dengan total penjualan 275 miliar yuan. Citibank dan Morgan Stanley menyebut performa BYD pada kuartal terakhir sesuai dengan ekspektasi.

Perbandingan pendapatan BYD & Tesla. (Sumber: Bloomberg)

"Hasil ini sangat baik dengan kualitas pendapatan yang sangat tinggi," ujar analis Citi, Jeff Chung.

BYD kini menjadi pemain utama di pasar otomotif China, yang merupakan pasar kendaraan listrik (EV) terbesar dan paling kompetitif di dunia. Tahun ini, BYD meluncurkan teknologi pengisian cepat yang memungkinkan EV-nya mengisi daya 400 kilometer hanya dalam lima menit, serta menyematkan teknologi bantuan mengemudi canggih bahkan di model dasar mereka.

Dari segi volume, BYD menjual 1,76 juta unit EV pada 2024, hampir setara dengan Tesla yang mencatatkan 1,79 juta unit. Namun, jika digabungkan dengan penjualan mobil hibrida, total pengiriman BYD mencapai 4,27 juta unit, mendekati angka produksi Ford Motor Co.

Perusahaan ini menargetkan penjualan 5 juta hingga 6 juta kendaraan pada 2025. Awal tahun ini menunjukkan tren positif, dengan penjualan dalam dua bulan pertama naik 93% secara tahunan menjadi 623.300 unit.

Meski BYD mencatat pertumbuhan pesat, Tesla masih unggul dalam kapitalisasi pasar. Perusahaan AS tersebut bernilai sekitar US$800 miliar, meskipun harga sahamnya telah turun 38% sepanjang tahun ini. Sementara itu, kapitalisasi pasar BYD hanya sekitar US$157 miliar.

Dari sisi keuntungan, Tesla juga masih lebih unggul secara absolut, dengan laba bersih US$7,6 miliar pada 2024. Namun, di pasar China, Tesla mulai kehilangan momentum—pengiriman kendaraan Tesla di negara tersebut telah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut secara tahunan. Sebaliknya, BYD terus menguasai 15% pangsa pasar kendaraan penumpang di China, baik untuk EV maupun kendaraan bermesin konvensional.

Pendiri dan CEO ARK Investment Management LLC, Cathie Wood, yang dikenal sebagai pendukung Tesla, mengakui daya saing BYD.

"Kami melihat mobil-mobil BYD dan dari yang kami amati, mereka luar biasa," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg TV di Hong Kong, Selasa. "Kualitas, desain, dan penyelesaiannya sangat baik."

Saat ini, BYD belum menjual mobil penumpangnya di AS karena tarif tinggi yang dikenakan pada mobil buatan China. Namun, perusahaan ini telah menembus pasar Eropa, serta beberapa negara di Asia seperti Singapura dan Thailand, serta Australia.

Penjualan mobil di China. (Sumber: Bloomberg)

Pendiri dan ketua BYD, Wang Chuanfu, mengatakan perusahaan akan terus meningkatkan riset dan pengembangan, serta memperkuat daya saing produknya, terutama dalam ekspansi di luar China.

"Di era kendaraan berbasis kecerdasan buatan, merek otomotif China tidak lagi hanya menjadi pengikut. Kini, mereka berani menjadi yang terdepan di dunia dan berkolaborasi dengan merek lokal lainnya untuk memperluas jangkauan global serta naik ke rantai nilai yang lebih tinggi," kata Wang.

(bbn)

No more pages