Logo Bloomberg Technoz

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir turut mendukung layanan Bank Emas ini, mengingat saat ini terdapat sekitar 1.800 ton emas yang dimiliki masyarakat tetapi masih berada di luar sistem keuangan formal.

“Ada yang di bawah bantal, ada di toilet, di balik batu bata, dimasukin dalam situs. Ini realitas,” ungkap Erick Thohir.

Menurut Sunarso, keberadaan Bank Emas akan membantu memonetisasi potensi emas yang selama ini belum dimanfaatkan dalam sistem keuangan formal. Dengan demikian, emas yang sebelumnya hanya disimpan dapat dioptimalkan untuk meningkatkan likuiditas dalam perekonomian nasional.

“Itu kalau kita monetisasi, menjadi sumber likuiditas pembangunan. Dan bagi BRI, ini adalah sumber pertumbuhan baru," jelas Sunarso.

Selain layanan utama seperti tabungan, deposito, dan kredit emas, Sunarso juga membuka peluang pengembangan produk turunan atau derivatif emas. "Kalau emas ini disekuritisasi, maka itu akan menjadi likuid. Ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

BRI turut berperan dalam ekosistem bullion bank dengan memfasilitasi transaksi, baik secara langsung maupun melalui anak usahanya, Pegadaian.

“Lewat BRI langsung enggak? Ada yang lewat BRI langsung karena kan kita fasilitasi dengan BRImo transaksinya. Tapi kemudian kan lewat Pegadaian. Di Pegadaian nanti yang akan punya potensi pertumbuhan, dan itu nanti akan support pertumbuhannya BRI," tutup Sunarso.

Dengan layanan bullion bank ini, Sunarso optimistis sektor keuangan nasional dapat lebih berkembang, sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan berbasis emas.

(tim)

No more pages