Logo Bloomberg Technoz

Nicholas Takahashi dan Craig Trudell - Bloomberg News

Bloomberg, Transisi ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang terlalu cepat dapat membuat masyarakat lebih memilih mempertahankan mobil bahan bakar fosil. Ini merupakan peringatan dari Gill Pratt, Kepala Eksekutif Toyota Research Institute, menjelang pertemuan puncak para pimpinan negara G-7 di Jepang.

Dalam sebuah wawancara di Hiroshima, Kamis (18/5/2023), Pratt mengatakan subsidi dan pembatasan yang ditujukan untuk rantai tenaga (powertrain) tertentu memang dapat membuat EV lebih menarik bagi pelanggan yang mampu membelinya. Namun, bagi kalangan lain, hal itu mungkin memicu efek kontraproduktif. Untuk itu, dia pun menyarankan agar mobil hibrida lebih dipopulerkan sebelum transasisi seutuhnya ke adopsi EV.

“Akhirnya, isu keterbatasan sumber daya akan berakhir, tetapi selama bertahun-tahun kami tidak akan memiliki cukup bahan baku baterai dan sumber daya isi ulang terbarukan untuk solusi khusus BEV [battery electric vehicle atau kendaraan listrik berbasis baterai],” kata Pratt.

Kendaraan listrik Hengchi China Evergrande New Energy Vehicle Group Ltd. di pameran Auto Shanghai 2021 di Shanghai, China. Fotografer: Qilai Shen/Bloo

"Bahan [baku] baterai dan infrastruktur pengisian daya terbarukan pada akhirnya akan berlimpah. Namun, dibutuhkan waktu puluhan tahun agar penambangan bahan baterai, fasilitas pembangkit listrik terbarukan, jalur transmisi, dan fasilitas penyimpanan energi musiman dapat ditingkatkan."

Ini adalah argumen yang sering diulang-ulang oleh produsen mobil nomor wahid di dunia tersebut. Mereka menilai transisi agresif menuju E akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan banyak kalangan. Tidak hanya itu, perusahaan berpendapat penggunaan kendaraan hibrida dan bahan bakar alternatif akan lebih baik untuk lingkungan dan industri otomotif.

Argumen ini pun menuai kritik dan memicu kekhawatiran bahwa Toyota memberikan keunggulan berlebihan kepada Tesla Inc. milik Elon Musk, BYD Co. dari China, dan produsen EV lainnya.

Meskipun Toyota dan produsen mobil Jepang lainnya memelopori teknologi hibrida, mereka lambat dalam meningkatkan produksi mobil listrik. Beberapa produsen mobil telah berjanji untuk meningkatkan produksi mobil listrik secara cepat dalam beberapa tahun ke depan, tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana dan kapan mereka akan menghentikan produksi mobil hibrida atau mobil berbahan bakar fosil.

“BEV merupakan pilihan yang sangat penting," kata Akio Toyoda, mantan CEO Toyota yang juga Ketua Asosiasi Pabrikan Otomotif Jepang, dalam pengarahan Kamis.

Selama 14 tahun masa jabatannya sebagai CEO Toyota, yang berakhir pada April, cucu dari pendiri Toyota ini dipuji dan dikritik karena keyakinannya pada pendekatan yang melibatkan penjualan kendaraan listrik memakai baterai di samping mobil-mobil yang ditenagai oleh mesin hibrida atau mesin pembakaran internal tradisional.

Mobil Toyota (Sumber: Bloomberg)

Kritikus mengatakan strategi Toyoda tidak sesuai dengan tujuan perusahaan untuk mengurangi separuh emisi karbon pada 2035 dan menjadi netral karbon pada 2050. Namun, Toyota membantah anggapan tersebut. 

“Tujuannya adalah untuk melakukan sesuatu tentang pemanasan global. Musuh bersama adalah karbon dioksida," tegas Toyoda. 

Koji Sato, CEO Toyota baru yang mengambil alih posisi Toyoda pada April, mengatakan pada 2026 Toyota akan menjual 1,5 juta BEV per tahun dan meluncurkan 10 model baru yang sepenuhnya listrik. Produsen kendaraan terbesar di dunia itu telah menjual 38.000 BEV pada tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret.

Penjualan BEV Toyota diproyeksikan mencapai 200.000 pada tahun fiskal saat ini, kata Chief Financial Officer Toyota Yoichi Miyazaki pada Mei, dan perusahaan akan membangun pabrik BEV dan menginvestasikan ¥3,1 triliun (US$22,5 miliar) untuk mewujudkannya.

Pada April, menteri lingkungan dan energi G7 berjanji untuk mengurangi emisi kendaraan pada 2035, tanpa mengumumkan tenggat atau tujuan sementara program tersebut setelah pertemuan di Hokkaido, Jepang.

(bbn)

No more pages