Jason Scott - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham Asia siap menguat, mengikuti kenaikan Wall Street setelah merosot tajam pekan lalu, didukung oleh data AS yang meredakan kekhawatiran resesi dan data-data positif China yang menunjukkan ketahanan negara dengan ekonomi terbesar kedua ini.
Bursa berjangka menunjukkan indeks acuan Hong Kong bisa dibuka lebih dari 2% lebih tinggi, menyusul indeks saham China yang terdaftar di New York melonjak sebesar 4%. Bursa Tokyo dan Sydney juga siap untuk kenaikan yang sehat. Ini terjadi setelah bursa saham AS naik untuk hari kedua, didorong oleh harga saham industri dan energi yang menguat.
Harga saham lebih dari 90% perusahaan di Indeks S&P 500 naik, menutupi penurunan di sebagian besar saham perusahaan berkapitalisasi besar.
Sementara itu, data ekonomi terbaru tidak banyak mengubah spekulasi para traders pada prospek Federal Reserve (The Fed). Penjualan ritel yang beragam membawa sedikit ketenangan bahwa belanja konsumen tidak anjlok. Seiring dengan meredanya pembicaraan seputar tarif, saham terus menjauh dari level oversold secara teknis.
Indeks S&P 500 naik 0,6%. Nasdaq 100 melesat 0,55%. Dow Jones Industrial Average bertambah 0,9%. Indeks Magnificent Seven megacaps turun 1,1%. Russell 2000 naik 1,2%.
Imbal hasil Treasury 10 tahun menurun satu basis poin menjadi 4,30%. Indeks Spot Dolar Bloomberg melemah 0,2%.
"Koreksi yang terjadi dalam pasar bullish, cenderung menjadi peluang beli yang baik," kata David Lefkowitz dari UBS Global Wealth Management. "Lonjakan ketidakpastian kebijakan menghantam pasar pada saat posisi dan sentimen investor cukup tinggi. Namun, kami pikir banyak dari ini telah teratasi."

Di Asia, ada tanda-tanda positif dari China pekan ini karena mereka berusaha melawan ancaman ekonomi dari berbagai tarif Presiden AS Donald Trump. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan China akan mengambil langkah-langkah untuk membangkitkan konsumsi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, meski begitu hanya sedikit rincian yang dirilis oleh para pejabat.
Data yang dirilis pada Senin (17/3/2025) menunjukkan konsumsi, investasi, dan produksi industri di negara raksasa Asia ini melampaui estimasi awal tahun.
Di sisi lain, menurut 52 ekonom yang disurvei Bloomberg, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan menahan suku bunga kebijakan sebesar 0,5% pada akhir pertemuan dua hari pada Rabu (19/3/2025). Fokus utama Gubernur Kazuo Ueda dan rekan-rekannya sesama anggota dewan ialah tingginya kekhawatiran atas prospek ekonomi global karena perang dagang makin memanas.
"BOJ harus mengawasi dengan cermat kenaikan tajam imbal hasil," kata Junki Iwahashi, ekonom senior di Sumitomo Mitsui Trust Bank. "Jadi, perhatian yang cermat akan diberikan pada komentar Ueda tentang hal itu saat dia berbicara dalam konferensi pers nanti."
Penjualan Ritel
Penjualan ritel AS naik lebih rendah dari perkiraan pada Februari dan bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. Namun, penjualan kelompok kontrol — yang masuk dalam perhitungan pemerintah atas belanja barang untuk produk domestik bruto (PDB) — meningkat 1% bulan lalu, membalikkan penurunan sebelumnya.
"Laporan penjualan ritel Februari pagi ini memberikan bukti perlambatan ekonomi yang terbatas dan moderat, alih-alih menandakan resesi semakin parah," kata Jennifer Timmerman dari Wells Fargo Investment Institute.
“BOJ harus mencermati kenaikan tajam dalam imbal hasil,” kata Junki Iwahashi, ekonom senior di Sumitomo Mitsui Trust Bank. “Jadi, perhatian yang cermat akan diberikan pada komentar Ueda tentang hal itu ketika ia berbicara di pengarahan.”

Rasa wait-and-see mungkin muncul dari para pembuat kebijakan pekan ini, dalam penilaian pertama mereka tentang bagaimana kebijakan perdagangan Trump berdampak pada ekonomi.
Karena para pejabat The Fed diprediksi akan menahan suku bunga pada Rabu, pasar akan fokus pada proyeksi ekonomi terbaru dari para pejabat dan konferensi pers Gubernur Jerome Powell untuk mendapat petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan.
Menteri Keuangan Scott Bessent, mantan manajer hedge fund, mengatakan dia tidak khawatir dengan penurunan saham baru-baru ini karena AS berusaha membentuk kembali kebijakan ekonominya.
"Saya telah berkecimpung dalam bisnis investasi selama 35 tahun, dan saya bisa memberi tahu Anda bahwa koreksi itu sehat, itu normal," kata Bessent pada Minggu dalam acara NBC, Meet The Press. "Saya tidak khawatir dengan pasar. Dalam jangka panjang, jika kita menerapkan kebijakan pajak yang baik, deregulasi, dan keamanan energi, pasar akan baik-baik saja."
Sementara itu, harga minyak menguat untuk sesi kedua karena adanya sinyal ekonomi yang optimis dari dua konsumen minyak mentah terbesar — AS dan China. Harga emas naik kembali menuju US$3.000 per ons, mendekati rekor tertingginya.
(bbn)