Ia menjelaskan, Indonesia memiliki sejarah hasil bumi yang melimpah yang bisa menghasilkan devisa bagi negara. Sua berpendapat, dengan hasil tambang yang melimpah dan dilirik negara luar, pemerintah menginginkan sumber daya yang diambil akan tetap berputar di dalam negeri.
"Kita menginginkan bahwa dengan bergelombangnya sumber daya alam kita yang kita ambil dari bumi Indonesia, itu kemudian dia benar-benar tinggal di Indonesia, hasil penjualannya," kata dia.
"Karena itulah kita buat supaya masuk ke Indonesia, di Indonesia kemudian dia berputar. Dia bisa berputar, dia bisa dipakai. Kalau yang paling pertama kita menginginkan hasil yang kita ekspor jadi rupiah," lanjut dia.
Jika hal tersebut terwujud, maka akan memberikan hasil yang sangat baik. Dengan devisa yang dihasilkan, akan menciptakan perekonomian Indonesia yang berputar lebih kuat dan bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya.
"Bisa dipakai untuk kegiatan ekonomi berikutnya, bisa dipakai untuk penambangan berikutnya. Tapi dia kemudian berputar. Karena kita memang melihat juga bahwa Indonesia akan tetap dengan rezim defvsa bebas. Kita menginginkan kalau hasil ekspor sumber daya alam Indonesia, ya ada di dalam negeri lah," tegasnya.
Suahasil mengaku paham atas keresahan yang dirasakan para pengusaha. Meskipun begitu, pemerintah tetap menginginkan perputaran ekonomi yang lebih kuat di dalam negeri serta memiliki likuiditas yang banyak.
"Saya memahami yang disampaikan, namun kita menginginkan putaran ekonomi yang lebih kuat di dalam negeri. Karena kita memiliki likuiditas yang lebih banyak di dalam negeri, yang berasal dari ekspor-ekspor tambang kita," tutup dia.
(lav)