Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup stagnan dengan turun tipis 2,51 poin (0,04%) ke level 6.792,35 di jeda penutupan Sesi I pada Kamis (20/2/2025) usai bergerak fluktuatif sejak pembukaan awal pagi hari tadi dengan saham Alfamart (AMRT) jadi pemberat laju IHSG.
Sepanjang perdagangan Sesi I IHSG melaju dengan volatilitas intensitas tinggi sejak pembukaan dengan sempat ada di zona hijau dan merah dengan cepat, adapun rentang pergerakan terjadi di kisaran 6.836,72 – 6.755,43.

Data perdagangan menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp6,65 triliun dari sejumlah 11,18 miliar saham yang ditransaksikan.
Tercatat ada penguatan 232 saham, dan sebanyak 319 saham terjadi pelemahan. Sisanya 224 saham stagnan.
Saham-saham konsumen primer, saham energi, dan saham properti menjadi pemberat laju pembalikan arah IHSG dengan melemah 1,67%, 0,78%, dan 0,73%, disusul oleh melemahnya saham konsumen non primer sebesar 0,62%. Sedangkan, saham-saham teknologi mengalami kenaikan 5,67%.
Sejumlah saham-saham konsumen primer yang menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) drop 5,65%, saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) yang turun 4,31%, dan saham PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) melemah 4,22%.
Senada, saham konsumen primer lainnya juga turun hingga pemberat pelemahan IHSG, saham PT Siantar Top Tbk (STTP) jatuh 14%, saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) ambles 3,51%, dan saham PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) yang terjungkal 3,31%.

Analis Panin Sekuritas memaparkan, Indeks Sektoral mayoritas ditutup melemah pada Sesi I. Sektor yang mengalami pelemahan paling besar dari sektor konsumer non-siklikal dengan tertekan 1,67% dan juga saham-saham energi melemah 0,78%.
“Pelemahan sektor konsumer non-siklikal disebabkan penurunan tajam dari saham AMRT dan MIDI yang disinyalir terjadinya outflow dari asing serta kekhawatiran SSSG (Sales to Store Growth) kedepan,” jelas Analis Panin Sekuritas siang hari ini.
Mencermati riset Verdhana Sekuritas, mereka mengantisipasi hasil kinerja ritel (termasuk AMRT) pada Kuartal IV-2024 tidak akan memberikan kejutan positif yang signifikan, dengan kemungkinan pengecualian pada Erajaya Swasembada (ERAA) dan Mitra Adiperkasa (MAPI).
“Untuk AMRT, kami memperkirakan pertumbuhan SSSG tahun 2024F secara keseluruhan tetap berada di kisaran pertumbuhan satu digit menengah (mid-single-digit growth),” papar riset Verdhana perihal fundamental saham Alfamart.
Kedepannya, pertumbuhan penjualan Alfamart akan berada di 10% YoY pada tahun penuh 2025, ada ‘Sedikit’ dampak dari penutupan Lawson.
Tekanan pada Beban Operasional (Operational Expenditure/OPEX) kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2025 imbas isu kenaikan upah minimum yang lebih tinggi dari proyeksi, peningkatan biaya depresiasi dari pusat distribusi baru (empat di 2024 dan dua di 2025F), serta investasi berkelanjutan.
“Meskipun demikian, kami memperkirakan pertumbuhan laba setidaknya akan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan,” tulisnya.
Adapun Bursa Asia siang hari ini mayoritas bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 tertekan 1,31%, Hang Seng Hong Kong ambles 0,87%, Kospi melemah 0,77%, Strait Times Singapore melemah 0,14%, dan indeks Shanghai merah 0,01%.
(fad)