“Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia, dengan ribuan kasus baru muncul setiap tahun. Meskipun ada berbagai upaya global, jenis TB yang resistan terhadap obat terus meningkat, sehingga pengobatan menjadi semakin sulit. Sementara itu, demam berdarah, infeksi virus yang ditularkan melalui nyamuk, terus menyerang jutaan orang Indonesia, sehingga membebani sistem perawatan kesehatan kita. Mengingat keterbatasan pilihan pengobatan saat ini, kebutuhan akan obat dan terapi baru menjadi semakin mendesak,” ucap Agus.
Menurut Agus, proyek SATREPS ini memiliki nilai yang sangat strategis dalam memperkuat ekosistem riset pengembangan obat di Indonesia, serta upaya dalam mencari solusi penyelesaian permasalahan kesehatan di Indonesia dan Dunia, khususnya terkait penyakit menular.
Ia menekankan perlunya penekanan khusus pada bidang optimasi struktur senyawa kandidat obat dan uji non-klinis di tahun mendatang, mengingat pentingnya kedua topik tersebut dalam proyek SATREPS ini.
Sebagaimana diketahui, lanjut Agus, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, rumah bagi ribuan spesies tanaman, organisme laut, dan mikroorganisme yang belum sepenuhnya dieksplorasi khasiatnya sebagai obat.
Dikatakannya, banyak pengobatan tradisional yang digunakan oleh masyarakat adat telah menunjukkan potensi efek antimikroba dan antivirus. Validasi ilmiah dan upaya penemuan obat yang sistematis dapat mengubah sumber daya alam ini menjadi obat-obatan yang menyelamatkan jiwa.
“Sumber daya hayati kita memiliki potensi yang belum dimanfaatkan untuk pengembangan senyawa anti-TB dan antivirus baru. Dengan berinvestasi dalam bioprospeksi dan penelitian produk alami, kita dapat mengidentifikasi molekul bioaktif yang dapat berfungsi sebagai dasar untuk obat baru. Kolaborasi antara praktisi pengobatan tradisional dan ilmuwan modern dapat menjembatani kesenjangan antara pengetahuan asli dan pengembangan farmasi mutakhir,” jelas Agus.
Pada acara tersebut juga akan mendiskusi strategis seputar evaluasi dan rencana kegiatan di tahun mendatang. Agus menyampaikan harapan untuk meneruskan dan memperkuat kerja sama riset yang telah dibangun selama ini, demi terwujudnya ekosistem riset pengembangan obat di Indonesia.
Selain memantau kemajuan proyek secara strategis, para periset dari ketiga negara juga berdiskusi membicarakan kemajuan kerja sama riset pengembangan secara teknis pada acara Scientific Meeting, yang diselenggarakan pada tanggal 17 Februari 2025 di KST BJ Habibie Serpong.
Capaian signifikan berupa didapatnya isolat mikroba baru, senyawa aktif anti-TB dan dengue yang baru, serta hasil pengujian senyawa-senyawa aktif tersebut dipaparkan dalam acara tersebut. Selain itu, tim riset BRIN juga berhasil meningkatkan produksi senyawa aktif antimalaria dari mikroba hingga 10x melalui proses mutasi dan seleksi untuk mendukung tahap pengembangan obat antimalaria selanjutnya.
Indonesia yang diwakili Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Malaysia yang diwakili University of Malaya mendapatkan bantuan teknis dari Pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency) dan AMED (Japan Agency for Medical Research and Development) dalam kerangka proyek SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustanable Development) yang berjudul: The Trilateral Collaboration Project for Anti-infectious Disease Drug Development: From Lead Optimization to Preclinical Testing (ADD SATREPS project).
Kemajuan kegiatan dalam proyek SATREPS di tahun ke-4 ini dipantau dan dievaluasi bersama oleh perwakilan masing-masing negara dalam acara The 4th Joint Coordinating Committee Meeting yang diselenggarakan pada Selasa (18/2) di Gedung BJ Habibie-BRIN, Jakarta secara hybrid.
(dec/spt)