Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (11/2/2025), dibuka melemah. Pada pukul 9.01, indeks kehilangan 18,32 poin atau setara dengan melemah 0,28% ke level 6.629.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, hingga lima menit berlangsung, volume perdagangan tercatat 1,39 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,81 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 87.405 kali.

Sebanyak 192 saham menguat, dan 159 saham melemah. Sementara, 186 saham tidak bergerak.

Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan penerapan tarif impor AS untuk komoditas baja dan aluminium sebesar 25%. Mengutip Bloomberg, kebijakan itu disebut akan resmi diimplementasikan mulai 4 Maret nanti.

Tidak hanya sampai di situ, seperti yang diwartakan Bloomberg News, Presiden Trump juga mengatakan akan mengumumkan tarif balasan pekan ini pada negara-negara yang mengenakan pajak atas impor AS.

Kebijakan Trump itu berdampak negatif pada aset-aset di pasar emerging market, termasuk rupiah dan IHSG nantinya.

Analis Phintraco Sekuritas menyebut, rencana pengumuman paket tarif impor tahap 2 oleh Pemerintah AS memicu kekhawatiran lonjakan inflasi dan dampaknya terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

“Kondisi ini berdampak negatif terhadap pergerakan Harga saham-saham rate-sensitive, khususnya bank-bank berkapitalisasi besar di Senin. Kondisi ini diperkirakan masih berlanjut sampai dengan Selasa,” mengutip riset Phintraco.

Pelemahan IHSG berlanjut di Senin. IHSG konfirmasi support break low di 6.700 dan berpotensi menguji support berikutnya di 6.550–6.600. Stochastic RSI berpotensi losing momentum, jika breaklow 6.550.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, IHSG mulai menguji support di area 6.639, ada potensi rebound jangka pendek dengan resisten terdekat di 6.830. 

“Waspadai potensi penurunan lebih dalam jika IHSG ditutup di bawah support 6.639,” mengutip paparan BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Selasa (11/2/2025).

(fad)

No more pages