Perkembangan politik ini semakin memperuncing perpecahan antara Marcos dan Duterte. Keduanya sebelumnya berkoalisi untuk memenangkan pemilu 2022, tetapi aliansi mereka runtuh akibat perbedaan kebijakan. Situasi ini juga semakin meningkatkan tensi menjelang pemilu paruh waktu pada Mei, karena senator baru yang terpilih kemungkinan akan memainkan peran penting dalam menentukan hasil sidang pemakzulan Duterte.
Meski menghadapi tekanan besar, Duterte mengatakan bahwa ia tidak meminta para pendukungnya turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi. Sebagai gantinya, ia mendorong mereka untuk membela dirinya melalui media sosial.
Duterte juga kembali menyinggung kemungkinan dirinya maju dalam pemilihan presiden 2028, meski belum memberikan rincian lebih lanjut.
Sementara itu, Presiden Marcos pada Kamis (06/02/2025) menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam upaya pemakzulan Duterte dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Senat. Ia juga menepis kekhawatiran bahwa situasi politik ini akan berdampak buruk pada ekonomi Filipina, dengan menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus pada rencana investasi dan reformasi struktural untuk menarik investor.
Ketua Senat Francis Escudero menyatakan bahwa para senator—yang akan berperan sebagai juri dalam sidang pemakzulan—kemungkinan akan memulai persidangan pada Juni, setelah sesi parlemen kembali dibuka pasca-libur pemilu.
Separuh dari 24 kursi di Senat akan diperebutkan dalam pemilu Mei, dan 12 senator baru yang terpilih nantinya akan memiliki suara penting dalam menentukan nasib Duterte.
Menutup konferensi persnya dengan nada bercanda, Duterte mengatakan, "Lebih menyakitkan ditinggalkan pacar daripada dimakzulkan."
(bbn)