Bloomberg Technoz, Jakarta - Grab Holdings Ltd. dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) adalah pemimpin atas bisnis layanan jasa transportasi online dan pengantaran makanan/minuman atau on-demand service (ODS). Jika wacana merger keduanya menjadi kenyataan, apakah berpotensi menciptakan monopoli pasar?
Diskusi seputar merger kedua perusahaan memungkinkan hilangnya pasar teknologi yang kompetitif di Asia Tenggara. Namun di sisi lain juga mengakhiri derita kerugian baik dari pihak Grab ataupun GoTo. Pasalnya tekanan persaingan akan reda, biaya yang ditimbulkan akan hal tersebut juga berkurang.
Kedua perusahaan diketahui begitu dominan di dua negara Asia Tenggara, Indonesia juga Singapura, dan jika terjadi kesepakatan Grab dan GoTo “akan menghadapi pengawasan ketat dari pihak berwenang,” terang Nathan Naidu, analis dari Bloomberg Intelligence, dilansir Rabu (5/2/2025).
Menurut Nathan, Grab dan GoTo telah menjadi pemain utama di pasar ASEAN meskipun beberapa rival baru yang mencoba masuk seperti Lalamove Ride, in-Drive, Bolt di tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Thailand.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tidak secara spesifik mengomentari wacana merger kedua bisnis ojol yang aktif berbisnis di pasar Indonesia. Namun, bersatunya Grab-GoTo bisa jadi memunculkan monopoli pasar.
“Teorinya, kalo dua perusahaan terbesar di pasar bersangkutan yang sama, tentunya bisa membentuk monopoli di pasar tersebut,” jelas Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KPPU, Deswin Nur saat berbincang dengan Bloomberg Technoz, Rabu.
Deswin mengaku, KPPU baru akan menelaah lebih jauh jika transaksi merger benar-benar telah terjadi. Lamun, dirinya percaya bahwa “para pihak tentunya paham dan mempertimbangkan aturan-aturan yang berlaku di Indonesia dan ASEAN pada umumnya dalam mengambil keputusan bisnisnya.”
Kabar pembicaraan terakhir mengarah pada akuisisi GoTo oleh Grab dengan harga di kisaran Rp100 per saham dengan valuasi perusahaan yang jadi induk Gojek dan GoTo Financial ini mencapai Rp118 triliun atau sekitar US$7 miliar.
Harga saham GOTO di pasar modal Indonesia hingga akhir sesi I perdagangan, Rabu, turun 5,75% ke Rp82. Pada hari munculnya kabar merger, GOTO sempat berada di harga tertinggi Rp87/saham namun berakhir di Rp85/saham saat penutupan pasar Senin. Sepanjang tahun (year-to-date/ytd) saham GOTO tercatat melambung 15,49%.
Grab yang sahamnya tercatat di bursa New York, Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan 12,5% menjadi US$5,11 dan sempat berada di level tertinggi US$5,19. Secara ytd GRAB mampu menorehkan presentasi kenaikan 7,8%.
Wacana Grab mengakuisisi GoTo rencananya menggunakan uang tunai, saham, atau kombinasi keduanya. Namun, hingga saat ini, pembicaraan antara kedua perusahaan masih berada dalam tahap awal dan belum ada keputusan final terkait rencana merger tersebut.
Menurut laporan yang dirilis pada Selasa, seorang eksekutif dari Provident Capital Partners, salah satu investor GoTo, disebut memimpin pembicaraan terkait merger ini.
Bloomberg News pada Selasa (4/2/2025) kemarin melaporkan bahwa merger Grab-GoTo mungkin tidak akan menghasilkan transaksi apapun, seperti disampaikan sumber-sumber yang tidak ingin disebutkan namanya karena masalah ini bersifat pribadi.
Untuk diketahui kedua perusahaan sama-sama didukung oleh para investor dan perusahaan teknologi terkemuka, seperti Grab dengan Uber Technologies Inc, sementara GoTo dengan Softbank Group Corp.
DealStreetAsia sebelumnya melaporkan dimulainya kembali diskusi merger kedua grup bisnis ride-hailing and food delivery service ini. GoTo pada Selasa malam menyampaikan bantahan kabar seputar rencana merger dengan Grab.
(prc/wep)