Menurut Bahlil, total konsumsi batu bara dunia mencapai sekitar 8 miliar ton, di mana Indonesia menyumbang 555 juta ton di antaranya atau sekitar 30%—35% dari total konsumsi batu bara dunia.
Dia menegaskan, batu bara Indonesia memiliki dampak sistemis, masif, dan terstruktur terhadap pasar energi global jika Indonesia sewaktu-waktu melakukan pengetatan ekspor.
“Masak harga batu bara di negeri kita dibuat lebih murah? Masak harga batu bara kita ditentukan oleh negara tetangga? Negara kita harus berdaulat untuk menentukan harga komoditas sendiri,” tutur Bahlil.
Menurut catatan Kementerian ESDM, realisasi kewajiban pemenuhan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) batu bara sepanjang 2024 mencapai mencapai 233 juta ton.
Angka ini melebihi target DMO batu bara periode 2024 yang dipatok sejumlah 220 juta ton. Adapun, ekspor batu bara sepanjang tahun lalu mecapai 555 juta ton. Angka ini meningkat dibandingkan dengan realisasi 2023 sebesar 518 juta ton.
Adapun, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini dihargai US$114,8/ton pada penutupan Januari. Dalam sepekan terakhir, harga batu bara terpangkas 1,67% secara point-to-point. Selama sebulan terakhir, harga terkoreksi 7,83%.
Memasuki 2025, batu bara masih tertahan di zona merah. Sejak awal tahun, harga ambruk 8,34%.
(wdh)