Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, telah memulai pertemuan Komite untuk menentukan kebijakan bunga acuan sejak kemarin dan akan mengumumkan keputusan pada Rabu siang waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. 

Konsensus pasar sampai saat ini memperkirakan Jerome Powell, Gubernur The Fed, dan kolega, akan mempertahankan Fed fund rate di level 4,25%-4,50%. 

Pertemuan The Fed perdana di awal tahun 2025 tersebut, berlangsung di tengah gejolak pasar global yang masih belum mereda, bahkan makin tajam menyusul berbagai akrobat pernyataan dan kebijakan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, terutama terkait kebijakan tarif impor.

Di tengah ketidakpastian yang masih tebal itu dan antisipasi petunjuk baru dari Powell usai mengumumkan keputusan bunga acuan, indeks dolar AS masih bergerak naik. Kemarin indeks yang mengukur kekuatan dolar AS melawan enam mata uang utama dunia itu, ditutup naik 0,5% di level 107,86. Pada perdagangan Rabu ini di Asia, indeks bergerak stabil di level 107,88.

Dolar AS yang stabil membuat pergerakan mata uang yang menjadi lawan terpantau sedikit menguat pada pagi ketika banyak pasar keuangan di Asia tutup memperingati Imlek.

Di Asia, beberapa mata uang terlihat menguat seperti baht yang nilainya naik 0,47%, yuan offshore 0,12%, dan dolar Singapura juga naik 0,05%. Sedangkan dolar Hong Kong bergeming ketika yen Jepang sedikit turun 0,02%.

Bila pasar modal RI buka hari ini, kemungkinan rupiah akan bergerak stagnan setelah diperkirakan melemah pada hari sebelumnya. Mengacu pada pasar offshore, kontrak rupiah Non Deliverable Forward (NDF) jelang siang ini, bergerak stabil di Rp16.250/US$ setelah tadi malam melemah menyentuh Rp16.271/US$.

Kebanyakan pasar keuangan di Asia hari ini tutup karena perayaan Tahun Baru China atau Imlek. 

Bursa saham yang buka hanya Jepang di mana indeks Nikkei pagi jelang siang ini bergerak menguat 0,55% bersama indeks Topix yang juga menguat 0,62%.

Sedangkan bursa saham Singapura, FTSE Strait Times bergerak stagnan. Adapun bursa saham Thailand juga menguat 0,34%.

Adapun bursa saham di China, Hong Kong, Taiwan, Korsel, Filipina, Malaysia, Indonesia, tutup merayakan Imlek. Begitu juga bursa saham India dan Asia Selatan lain.

Akrobat Trump

Keputusan The Fed dini hari nanti akan menjadi fokus utama pasar, selain penantian akan laporan keuangan perusahaan teknologi besar mulai dari Tesla, Microsoft, Meta, juga ASML.

Kejatuhan Nvidia yang sempat membuat indeks saham di Wall Street 'kebakaran' kini mulai kembali rebound dengan pasar kembali disibukkan mencermati data ekonomi dan akrobat Trump.

Trump bukan hanya silih berganti melempar pernyataan soal tarif impor pada berbagai negara, yang terbaru adalah pada Kolombia karena penolakan negeri Amerika Latin itu membiarkan pesawat militer AS pengangkut imigran mendarat. 

Pada Senin malam, Trump memutuskan penghentian belanja Federal senilai triliunan dolar AS untuk memastikan pengeluaran lembaga pemerintah selaras dengan agenda 'Make America Great Again', sempat memicu kepanikan di Washington dan kalangan pejabat lokal di seluruh negeri itu.

Mengacu laporan Bloomberg, sebelum arahan yang keluar setelah Trump dilantik itu ditunda sementara, para anggota parlemen AS merespon kekhawatiran para konstituen. Demokrat mengecam karena menilai tindakan itu sebagai perebutan kekuasaan yang tidak konstitusional. Beberapa sekutu Trump di GOP, juga tidak nyaman dengan keputusan tersebut.

Kekacauan yang timbul akibat perintah penghentian belanja itu tidak kecil. Pasien yang dibiayai dengan jaminan sosial negara, terancam terhenti perawatannya. 

Alhasil, Gedung Putih akhirnya mengeluarkan memo kedua yang menjelaskan dnegan jelas bahwa hanya cakupan program lebih sempit yang terpengaruh oleh perintah penghentian belanja oleh Trump tersebut. Sementara Medicaid, jaminan sosial dan bantuan sewa rumah tetap dilanjutkan. 

Pemerintah AS memang menghadapi tuntutan untuk membenahi anggaran mereka. Dengan defisit fiskal yang besar sekali, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memikul tugas besar untuk memastikan defisit keuangan di negeri adikuasa itu tetap terkendali.

Defisit fiskal AS sudah di atas 6% dari PDB, padahal AS tidak dalam kondisi krisis, resesi ataupun perang. Bessent menargetkan bisa membawa defisit fiskal AS turun ke 3% melalui pemotongan pajak. Namun, rencana itu dinilai akan memperburuk prospek fiskal. 

"Pendekatan menyeluruh pemerintah menggabungkan deregulasi dengan reformasi pajak dan faktor pendorong ekonomi lain, seperti penerapan kebijakan perdagangan yang kuat, akan menciptakan zaman kegemilangan ekonomi," kata Bessent di hadapan Komite Keuangan Senat AS.

(rui)

No more pages