Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, indikator Stochastic RSI sudah berada di 96,87. Di atas 80, yang berarti jenuh beli (overbought).

Oleh karena itu, wajar kalau harga emas turun. Apalagi saat ini harga sudah di bawah pivot point US$ 2.659/troy ons.

Dari pivot point tersebut, target koreksi selanjutnya adalah Moving Average (MA) 5 di US$ 2.649/troy ons. Jika tertembus, maka MA-10 di UUS$ 2.639/troy ons bisa menjadi target lanjutan.

Sedangkan target resisten adalah US$ 2.665/troy ons. Penembusan di titik ini berpotensi mengantar harga emas naik ke arah US$ 2.676/troy ons.

Ilustrasi Emas Batangan (Sumber: Bloomberg)

Emas Masuk Fase Konsolidasi

Sementara itu, World Gold Council (WGC) telah merilis laporan terbaru edisi Januari. Dalam laporan itu, WGC memperkirakan harga emas berisiko mengalami konsolidasi bulan ini.

“Lonjakan pada 2024 mungkin menjadi pemberat bagi laju harga emas ke depan. Secara teknikal, emas masih akan berada di posisi overbought untuk sementara waktu,” sebut riset WGC.

Sumber: WGC

Dalam jangka panjang, lanjut riset WGC, harga emas masih dalam tren naik. Namun ada tantangan dalam jangka pendek.

“Indikator momentum menunjukkan posisi jual setelah 5 bulan terus-menerus overbought. Namun untuk jangka panjang, sepertinya tren kenaikan sudah terkonfirmasi dan pelemahan jangka pendek bisa dipandang sebagai peluang bagi investor untuk membeli emas dengan harga yang atraktif,” tambah riset WGC.

(aji)

No more pages