Bloomberg Technoz, Jakarta - Departemen Kehakiman dan delapan negara bagian Amerika Serikat (AS) melayangkan gugatan Google atas dugaan monopoli ilegal di pasar periklanan digital. Mereka meminta bisnis digital menjadi perusahaan terpisah dari Google.
“Gugatan yang kami ajukan ini berupaya meminta pertanggungjawaban Google atas apa yang kami duga sebagai cara monopoli lama dalam teknologi periklanan digital yang digunakan pembuat konten untuk menjual iklan dan digunakan pengiklan guna membeli iklan di internet,” ujar Kepala Antimonopoli Departemen Kehakiman AS Jonathan Kanter, seperti dikutip dari Bloomberg News, Rabu (25/1/2023).
Google mengatakan gugatan tersebut berupaya memilih pemenang dan pecundang di sektor teknologi periklanan yang sangat kompetitif. Mereka menyebut sebagian besar gugatan itu merupakan duplikasi dari gugatan Jaksa Agung Texas yang sebagian besar gugatannya dibatalkan pengadilan federal AS.
“Departemen Kehakiman AS menggandakan argumen cacat yang akan memperlambat inovasi, menaikkan biaya iklan, dan mempersulit pertumbuhan ribuan bisnis kecil dan penerbit,” tulis Google dalam blog perusahaan sebagai tanggapan dari gugatan tersebut.

Gugatan ini merupakan kasus besar pertama Pemerintahan Joe Biden melawan raksasa teknologi AS. Dugaan monopoli ini sebelumnya sudah diselidiki di era Pemerintahan Donald Trump.
Salah satu yang digugat Departemen Kehakiman AS adalah aksi anti kompetisi. Bentuknya, Google mengendalikan sebagian besar teknologi yang digunakan untuk membeli, menjual dan menayangkan iklan online. Pasar iklan AS mencapai US$278,6 miliar di mana Google merupakan pemain dominan di pasar itu.
Jonathan Kanter menambahkan Google terlibat dalam 15 tahun perilaku anti persaingan, termasuk pola akuisisi untuk mendapatkan dominasi pasar. Pada 2017, Google mengakuisisi raksasa periklanan DoubleClick seharga US$ 3,1 miliar. Pada 2010 membeli Invite Media US$ 81 juta dan 2011 mencaplok AdMeld sebesar US$ 400 juta.
Menurut perusahaan riset EMarketer, Google merupakan pemain utama pasar digital global. Pada 2023 pasar iklan digital diperkirakan tembus US$626,9 miliar di mana sebagian besar berada di dAS.

Operasional iklan Alphabet diharapkan menyumbang US$ 73,8 miliar pendapatan iklan digital AS pada tahun 2023. Sebagian besar, senilai US$ 58,50 miliar, berasal dari bisnis iklan pencarian Google. Sisa US$ 15,29 miliar berasal dari iklan bergambar. Google menjalankan layanan pembelian iklan untuk pemasaran dan layanan penjualan iklan untuk penerbit, serta pertukaran perdagangan tempat kedua belah pihak menyelesaikan transaksi dalam lelang secepat kilat.
Pertukaran ini beroperasi seperti platform perdagangan saham online dengan proses penawaran otomatis. Para pesaing Google dan penerbit mengeluh bahwa Google memanfaatkan bagian dari jaringan itu, seperti pertukaran iklannya, untuk menguntungkan area lain dan menghalangi pesaing.
Google sendiri diharapkan menghasilkan pendapatan iklan digital sekitar US$ 65,7 miliar di AS tahun ini, mewakili sekitar 26,5% pangsa pasar, sementara YouTube mewakili 2,9% pangsa pasar, menurut EMarketer.
Google berargumen bahwa pasar untuk periklanan online adalah pasar yang ramai dan kompetitif. Dalam pengajuan pengadilan dan kesaksian kongres, perusahaan menyebut pesaing mereka di pasar teknologi iklan seperti Amazon.com Inc., Meta Platforms Inc. dan Microsoft Corp.
(roy/hdr)