Lynn Doan dan Debby Wu - Bloomberg News
Bloomberg, Tencent Holdings Ltd, perusahaan teknologi asal China yang dikenal melalui media sosial dan gimnya, mengalami penurunan nilai saham di pasar AS pada Senin (06/01/2025) setelah Departemen Pertahanan AS menyebut perusahaan tersebut sebagai entitas bisnis militer China yang beroperasi di Amerika Serikat.
Tencent, yang berbasis di Shenzhen, termasuk di antara beberapa perusahaan yang disebut sebagai entitas militer China dalam dokumen resmi Federal Register. Perusahaan lain yang masuk dalam daftar tersebut adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan Autel Robotics Co. Meski daftar ini tidak secara langsung memberlakukan sanksi tertentu, keberadaannya sering kali membuat perusahaan-perusahaan AS enggan bekerja sama dengan entitas yang terdaftar.
Dalam pernyataannya, Tencent menyebut penetapan ini "jelas merupakan kesalahan."
“Kami bukan perusahaan atau pemasok militer,” ujar juru bicara Tencent. “Tidak seperti sanksi atau kontrol ekspor, pencantuman ini tidak berdampak pada bisnis kami. Namun, kami tetap akan bekerja sama dengan Departemen Pertahanan untuk mengatasi kesalahpahaman ini.”
CATL juga menyebut bahwa pencantuman namanya dalam daftar tersebut adalah sebuah "kesalahan." Dalam pernyataannya, perusahaan ini menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam aktivitas terkait militer dan telah menjadi perusahaan publik sejak 2018. Hingga berita ini diturunkan, Autel Robotics belum memberikan komentar.
Saham Tencent di AS turun hingga 9,8% ke US$47,94, mencatat penurunan harian terbesar dalam hampir tiga bulan terakhir. Saham Prosus NV, pemilik sekitar seperempat saham Tencent, juga anjlok hingga 9,6% di pasar AS.
Daftar perusahaan militer China ini berasal dari perintah eksekutif yang ditandatangani oleh mantan Presiden Donald Trump pada akhir 2020. Perintah tersebut melarang investasi AS di perusahaan China yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer, sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk membatasi praktik bisnis Beijing yang dianggap merugikan.
Sebagai salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di China, Tencent telah terdampak oleh penurunan konsumsi domestik di negara tersebut selama setahun terakhir. Meski begitu, perusahaan ini mampu bertahan lebih baik dibandingkan pesaingnya, sebagian karena portofolio gim yang kuat dan pertumbuhan di divisi teknologi keuangan mereka. Saham Tencent yang terdaftar di Hong Kong mencatat kenaikan lebih dari 42% tahun lalu.
Beberapa perusahaan China telah berhasil mengajukan banding dan dihapus dari daftar AS ini. Pada 2021, Xiaomi Corp, raksasa smartphone asal China, mencapai kesepakatan dengan pemerintah AS untuk mencabut statusnya sebagai perusahaan militer China. Tahun lalu, Advanced Micro-Fabrication Equipment Inc juga berhasil dihapus dari daftar tersebut, setelah sebelumnya menyebut penetapan itu sebagai "tidak rasional."
Departemen Pertahanan AS dalam dokumen Federal Register menyebut bahwa perusahaan yang masuk dalam daftar memiliki hak untuk mengajukan peninjauan kembali. Pada saat yang sama, mereka juga menghapus beberapa perusahaan dari daftar, termasuk Beijing Megvii Technology Co, China Marine Information Electronics Co, China Railway Construction Corp, China State Construction Group Co, China Telecommunications Corp, dan ShenZhen Consys Science & Technology Co.
(bbn)