Bloomberg Technoz, Jakarta - Munculnya penyakit misterius atau flu misterius di Kongo terjadi karena beberapa faktor, salah satunya berasal dari hewan liar.
Menurut epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman hal tersebut dikarenakan 70% penyakit baru muncul dari hewan.
“Indonesia memiliki risiko tinggi penyakit baru. Ada beberapa faktor salah satunya Indonesia merupakan hotspot zoonosis di mana banyak memiliki satwa liar. Faktor lain adalah marak pembabatan hutan yang membuat rumah bagi hewan liar semakin sedikit dan terakhir beberapa wilayah Indonesia masih mengonsumsi satwa liar,” terang Dicky saat berbincang.
Dicky mengutarakan, untuk itu pemerintah harus melakukan penguatan terhadap survaillance berbasis komoditas dan laboratorium.
“Serta menambah Sumber Daya Manusia (SDM), laboratorium sudah ada namun perlu diperkuat, sudah ada cuman jauh dari yang diarahkan, serta pengawasan ketat pada perdagangan satwa liar,” tambah Dicky.
Sebelumnya, Dicky memprediksi penyakit flu misterius di Kongo bisa berpotensi menjadi pandemi baru. Namun, harus menunggu investigasi WHO.
"Prediksi saya kemungkinan lebih besar ini penyebabnya virus dari gejala yang ada ya. Yaitu, pertama, flu seperti syndrom ini khas ya, demam nyeri badan, juga gangguan nyeri tulang misalnya, nyeri kepala. Gejala khas lainnya, gangguan napas yang akhirnya juga menyebabkan salah satu kematian, pernapasan dan penurunan hemoglobin dan ini terjadi 40% pada anak di bawah 5 tahun," kata Dicky dalam keterangannya, dikutip Senin (9/12/2024).
"Yang kita tahu di Kongo kondisi kesehatan secara umum buruk ya, anak mal nutrisi menjadi korban terbanyak, selain itu harus diingat, lahan bumi utara ini pada bulan seperti Desember, adalah siklus flu, virus flu ini bisa jadi potensi," tambahnya.
Meski begitu, Dicky mengatakan mitigasi Indonesia dalam penguatan di pintu masuk dari sejak pandemi ke depan harus terus dilakukan. Ia mengatakan tak harus seketat pandemi, akan tetapi tentu standar yang berlaku harus jauh lebih baik. "Dalam arti misalnya skrining masalah suhu, gejala, ini menjadi hal yang dilakukan di semua pintu darat, laut, udara," ujarnya.
(spt)