Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penggulingan Mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad menandai akhir dari hampir enam dekade kekuasaan keluarganya. Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kelompok pemberontak utama, menguasai Damaskus pada Sabtu (07/12/2024) malam setelah sebelumnya merebut Homs, kota strategis yang berjarak sekitar 160 kilometer di utara ibu kota.

Seiring dengan jatuhnya Homs, wilayah lain di Suriah seperti perbatasan utara dekat Turki dan wilayah selatan juga jatuh ke tangan berbagai kelompok pemberontak. Warga Damaskus dilaporkan merayakan runtuhnya rezim Assad, yang selama ini dianggap otoriter.

Pemimpin HTS, Ahmed Al-Sharaa (dikenal juga sebagai Abu Mohammed Al-Jolani), menyerukan pasukan pemerintah di Damaskus untuk mundur. Ia juga menyatakan bahwa Perdana Menteri Mohammad Ghazi al-Jalali akan tetap menjabat hingga transisi kekuasaan resmi dilakukan.

Keberadaan Bashar al-Assad sempat menjadi misteri setelah pasukan pemberontak menguasai ibu kota. Laporan dari berbagai sumber, termasuk Syrian Observatory for Human Rights, menyebutkan Assad telah meninggalkan Suriah. Agence France-Presse (AFP) melaporkan bahwa pemberontak mengatakan Assad "melarikan diri," sementara Reuters mengutip perwira militer yang mengatakan ia terbang keluar dari Damaskus.

Assad memerintahkan pasukannya untuk mundur ke Damaskus, menyerahkan sebagian besar wilayah termasuk Aleppo, Homs, dan Hama kepada pemberontak. Wilayah barat laut, termasuk Aleppo, jatuh ke tangan oposisi pada akhir November, mengakhiri pertahanan Assad secara signifikan.

Runtuhnya pemerintahan Assad mengejutkan kekuatan besar seperti Rusia, Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Rusia dan Iran, yang sebelumnya membantu Assad mempertahankan kekuasaan sejak 2015, kini terpaksa menghadapi krisis ini dengan sumber daya yang terbatas akibat konflik lainnya, termasuk perang di Ukraina.

Pemberontak merangsek ke berbagai wilayah Suriah./dok. Bloomberg

Bashar al-Assad Mendapat Suaka di Rusia

Setelah melarikan diri dari Suriah, Bashar al-Assad bersama keluarganya kini diketahui berada di Moskow. Rusia memberikan suaka atas dasar kemanusiaan dan mencapai kesepakatan untuk menjamin keamanan pangkalan militernya di Suriah.

"Presiden Suriah Assad dan anggota keluarganya telah tiba di Moskow. Rusia telah memberikan mereka suaka atas dasar kemanusiaan," demikian pernyataan sumber Kremlin yang dikutip oleh kantor berita Interfax.
Keputusan Rusia memberikan suaka menyoroti kepentingannya untuk mempertahankan pangkalan militer strategis di Tartous dan Hmeimim. Kehilangan pangkalan ini akan menjadi pukulan serius bagi kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di Timur Tengah, Mediterania, dan Afrika.

Konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade ini telah menewaskan sekitar 300.000 hingga 500.000 orang dan membuat lebih dari 10 juta orang mengungsi, dengan banyak dari mereka melarikan diri ke luar negeri, menurut badan-badan PBB dan organisasi-organisasi Suriah.

(del)

No more pages