Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg New

Bloomberg, Para importir logam China terpantau telah berhenti membeli skrap tembaga Amerika Serikat (AS) untuk mengantisipasi kenaikan tarif saat Donald Trump memangku jabatan presiden, menurut Beijing Antaike Information Development Co.

Pembelian dihentikan sejak pertengahan November karena kargo tersebut kemungkinan akan tiba sekitar waktu Trump menjabat pada 20 Januari, kata peneliti milik negara itu dalam sebuah catatan, mengutip surveinya terhadap para pedagang.

Presiden terpilih AS itu mengancam akan mengenakan tarif 60% pada semua impor China, yang kemungkinan akan memicu tindakan balasan dari Beijing.

Dua ekonomi terbesar dunia terlibat dalam perang dagang saling balas selama masa jabatan pertama Trump, dengan China mengenakan bea sebesar 25% pada skrap tembaga dari AS.

Ketegangan meningkat lebih tinggi pada Senin saat Washington memberlakukan pembatasan baru pada akses China ke komponen untuk cip dan AI.

Skrap logam digunakan sebagai bahan baku untuk sekitar 30% produksi tembaga tahun lalu, menurut Asosiasi Industri Logam Nonferrous China. Sekitar seperlima dari impor tembaga bekas negara itu dalam 10 bulan pertama tahun ini berasal dari AS, menurut data pemerintah.

Potensi hilangnya impor dari AS terjadi karena pabrik peleburan tembaga China sudah menghadapi kekurangan logam bekas karena dampak yang tidak diinginkan dari perubahan kebijakan potongan pajak pemerintah daerah.

Penghentian pembelian dari AS akan memperketat pasokan tembaga bekas China dan meningkatkan permintaan tembaga olahan, yang berpotensi memacu volatilitas harga dan biaya pemrosesan, kata Beijing Antaike.

Harga  tembaga turun 0,1% menjadi US$8.982 per ton di London Metal Exchange pada pukul 12:02 siang di Shanghai.

Tembaga turun hampir 20% dari rekor tertinggi pada Mei karena penguatan dolar dan melambatnya permintaan China. Sementara itu, aluminium turun 0,3% dan seng turun 0,7%.

(bbn)

No more pages