Bloomberg Technoz, Jakarta - Reli harga saham-saham perbankan kakap yang telah mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal pekan ini, sedikit membantu gerak rupiah yang tertekan pagi tadi.
Rupiah spot siang ini berbalik arah menguat tipis 0,04% ke level Rp15.869/US$. Rupiah bergabung bersama mata uang Asia lain yang sejak pagi tadi sudah bergerak menguat.
Namun, penguatan rupiah cenderung lebih kecil dibanding valuta Asia lain. Ringgit misalnya berhasil naik 0,31% hari ini, begitu juga baht yang menguat 0,10%. Sementara won Korsel memimpin penguatan sebesar 0,52%.
Penguatan terbatas rupiah setelah pagi tadi dibuka lesu, kelihatannya terbebani oleh aksi jual di pasar surat utang negara.
Mengacu data Bloomberg, sampai perdagangan Senin tengah hari ini, mayoritas SBN mencatat kenaikan tingkat imbal hasil alias yield.
Yield tenor pendek 1Y bahkan naik hingga 4 bps ke level 6,52%. Begitu pun tenor 4Y yang juga naik 2,1 bps ke 6,75%.
Adapun tenor acuan 10Y hanya bergerak sedikit di 6,89%, lalu tenor 5Y juga stabil di 6,71%.
Tekanan jual di pasar surat utang negara hari ini terutama tenor pendek sepertinya terpengaruh oleh hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pekan lalu di mana tenor 12bulan makin naik bunga diskontonya ke level 7,14%, tertinggi sejak awal September.
Selain itu, perkembangan pasar obligasi global juga membuat pelaku pasar lebih waspada.
Pada pengujung pekan lalu, indeks dolar AS melonjak dan menekan pasar obligasi menyusul data aktivitas manufaktur Inggris dan Zona Euro pada November yang lebih rendah ketimbang prediksi. PMI Jasa dan manufaktur Zona Euro terkontraksi.
Data itu memperkuat potensi kenaikan bunga acuan Inggris (BoE) dan Uni Eropa (ECB) sehingga menekan nilai tukar mereka terhadap dolar AS. Perkembangan itu menekan harga obligasi mereka.
"Pergerakan yield SUN hari ini berpotensi mengikuti pola bearish flattening. Yield tenor pendek, seperti FR0104, FR0101, dan FR0086 berpotensi naik lebih banyak daripada tenor menengah dan panjang. Sedangkan yield tenor panjang SUN berpotensi stabil pada rentang 7,05%-7,10%," kata tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatan tadi pagi.
(rui)