Bloomberg Technoz, Jakarta - Pertama kali setelah tiga hari perdagangan terus dibuka melemah, rupiah akhirnya dibuka lebih perkasa pada Rabu pagi, didukung oleh sentimen data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mengangkat optimisme pasar global.
Rupiah spot dibuka menguat tipis 0,08% ke level Rp15.747/US$. Ini menjadi pertama kali bagi rupiah dibuka menguat di pasar spot setelah sejak Jumat lalu terus lesu di awal transaksi.
Rupiah tidak menguat sendirian pagi ini. Pada pukul 09:32 WIB, rupiah menjadi valuta Asia dengan penguatan terbesar di Asia. Naik nilainya hingga 0,21%. Di belakangnya ada won 0,17%, dolar Taiwan 0,17% lalu baht 0,12% dan dolar Hong Kong 0,01%
Kabar dari Amerika Serikat (AS) mungkin akan sedikit meredam tekanan di pasar domestik di tengah gerak indeks dolar AS yang stagnan.
Tadi malam AS melaporkan hasil survei ketenagakerjaan (JOLTS Opening) yang menunjukkan pembukaan lapangan kerja pada September menyentuh level terendah sejak awal 2021. Angka PHK juga meningkat, konsisten dengan indikasi perlambatan di pasar tenaga kerja.
Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan konsumen AS pada Oktober naik ke level tertinggi sejak Maret 2021, terungkit optimisme memandang perekonomian secara umum di negeri adidaya tersebut.
Data JOLTS Opening mungkin akan menempatkan Federal Reserve (The Fed) tetap dalam jalur penurunan bunga acuan seperti ekspektasi pasar. Di sisi lain, optimisme konsumen yang membaik, menunjukkan ekonomi AS masih tangguh.
Potensi bunga The Fed
Badan statistik AS merilis hasil survei ketenagakerjaan JOLTS Opening pada September.
Survei itu memperlihatkan, pembukaan lapangan kerja di AS pada September menyentuh level terendah sejak 2021 yaitu turun ke 7,44 juta dengan angka Agustus direvisi turun jadi 7,86 juta.
Data itu juga lebih rendah dibanding prediksi pasar. Pembukaan lapangan kerja di AS terus mencatat tren penurunan dalam dua tahun terakhir dan laporan terbaru itu memperkuat pelemahan lowongan kerja di industri di negeri itu.
Yang juga dicermati, angka PHK di AS melesat ke level tertinggi sejak Januari 2023 ketika makin sedikit pekerja yang memutuskan resign. Itu dinilai sebagai cerminan kurangnya kepercayaan diri akan kemudahan memperoleh pekerjaan baru lagi ke depan.
"Para pelaku pasar melihat melihat hasil tersebut sebagai afirmasi bagi berlanjutnya pemangkasan suku bunga the Fed dari sisi tenaga kerja. Ada kemungkinan unemployment rate AS di bulan Oktober naik menjadi 4,20% melawan konsensus di 4,10%, akibat permintaan tenaga kerja yang lebih lemah dari ekspektasi," komentar Lionel Priyadi, analis Mega Capital Sekuritas.
Di sisi lain, tingkat keyakinan konsumen AS pada Oktober naik terbesar sejak Maret 2021 dengan kenaikan 9,5 poin ke level 108,7. Data itu juga melampaui ekspektasi pasar.
(rui)