Bloomberg Technoz, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan Indonesia pada 2025 dan 2029. saat pemerintahan baru Presiden Prabowo Subinto, akan stagnan di level 5,1%.
Angka itu hanya naik tipis dibanding realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada 2023 dan proyeksi pertumbuhan PDB pada akhir 2024 yang masing-masing sebesar 5%.
Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibanding target pemerintah dalam asumsi makro yang tercantum di Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) 2024 dan UU APBN 2025.
"Proyeksi IMF didasarkan pada anggaran terbaru, dengan ekstrapolasi menggunakan PDB nominal yang diproyeksikan dan komponen-komponennya sebagaimana diperlukan," demikian tertulis dalam laporan IMF bertajuk World Economic Outlook 2024: Policy Pivot, Rising Threats yang terbit Rabu (23/10/2024).
Laporan tersebut menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia didasari dengan penerapan penilaian guna mencerminkan kebijakan belanja dan pendapatan pemerintah berwenang dalam jangka menengah.
Perkiraan inflasi Indonesia oleh IMF, akan berada di level 2,5% baik pada 2024 maupun 2025. Angka itu jauh lebih rendah dibanding realisasi laju inflasi pada 2023 yang mencapai 3,7%.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto yakin bisa merealisasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8% seperti yang ditargetkan pemerintahan barunya. Dia bahkan berambisi mencapai pertumbuhan ekonomi 9% berbekal ambisi dan upaya yang keras.
"Siapa tahu nanti tidak 8% kalau 9% bagaimana? lo ngga percaya kan? bener tidak? tunggu tanggal mainnya. Saya optimis, semakin saya belajar, semakin dikaji, saya optimis," ujar Prabowo saat memberi sambutan dalam acara BNI Investor Daily Summit, Rabu (9/10/2024).
Prabowo merasa sering diejek oleh sejumlah pihak karena dianggap mematok target pertumbuhan ekonomi terlampau ambisius. Namun, dia mengaku belajar dari Presiden Pertama Indonesia Soekarno yang pernah mengatakan bahwa seseorang harus menggantungkan cita-citanya setinggi langit.
"Karena kalau tidak sampai langit, minimal kau jatuh di antara bintang-bintang. Jadi saya canangkan 8%. Kalau tidak sampai ya 7,5%, kalau tidak ya 7%. Tapi kalau kita puas di angka 6%, lalu nanti tercapai 5,3% yasudahlah," ucap Prabowo.
Kepala Negara menyampaikan bahwa dirinya meyakini bahwa Indonesia akan menjadi negara yang maju dan makmur. Hal itu dapat terwujud tentu dengan kerja keras, termasuk membenahi organisasi, dan sistem pendidikan nasional.
Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Drajad Wibowo mengklarifikasi bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden terpilih Prabowo Subianto bukan merupakan besaran rata-rata dalam lima tahun pemerintahannya kelak.
Drajad menyebut, target pertumbuhan yang tinggi tersebut dipatok untuk dicapai pada salah satu tahun dalam lima tahun masa jabatan Prabowo nanti.
“Saya selalu katakan pertumbuhan ekonomi kita stagnan di 5%, itu sudah bagus tapi belum cukup. Makanya kami ketika kampanye targetkan 6-7%. 8% itu bukan rata-rata, salah satu didalam tahun itu 8%, rata-ratanya 6-7%,” kata Drajad dalam Katadata Future Policy Dialogue di Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Ia menyebut, pemerintahan Prabowo salah satunya akan mengandalkan sektor swasta untuk menggenjot pertumbuhan domestik, tanpa menjelaskan lebih rinci strategi yang dimaksud.
Neraca Transaksi Berjalan Diproyeksi Memburuk
Menariknya, lembaga internasional bidang ekonomi ini memperkirakan neraca transaksi berjalan atau current account balance Indonesia pada 2025 akan memburuk hingga level -1,2% terhadap PDB. Angka ini lebih rendah dibanding perkiraan posisi pada akhir 2024 yang berada di level -1% terhadap PDB. Keduanya jauh lebih buruh dibanding realisasi pada tahun lalu yang hanya -0,2% terhadap PDB.
Kendati demikian, angka pengangguran diperkirakan akan menyusut menjadi 5,1% pada 2025. Persentasenya lebih baik dibanding proyeksi angka pengangguran pada 2024 yang sebesar 5,2%, dan realisasi 2023 yang mencapai 5,3%.
(lav/wep)