Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Presiden terpilih Prabowo Subianto telah memanggil lebih dari 100 orang, termasuk dari kalangan pengusaha, terkait kabinet saat kepemimpinannya nanti.

Tak sedikit nama-nama yang memiliki afiliasi dengan emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, sejumlah emiten itu tengah mendapat notasi khusus oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Notasi khusus yang disematkan BEI sejak 2018 ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada investor terkait kondisi suatu emiten serta menilai kepatuhan emiten terhadap ketentuan maupun regulasi BEI.

PT Mahaka Media Tbk (ABBA), misalnya. Emiten milik Menteri BUMN Erick Thohir ini tercatat memiliki dua notasi khusus, yakni E dan X.

Notasi E menandakan bahwa perseroan menunjukkan laporan keuangan terakhirnya memiliki ekuitas negatif. Sementara, notasi X menunjukkan sahamnya tengah berada di Papan Pemantauan Khusus lantaran harga rata-rata sahamnya selama 6 bulan terakhir kurang dari Rp51/saham.

Meski begitu, saham ABBA hari ini, Rabu (16/10/2024), mengalami penguatan 8,11% atau 3 poin ke level Rp40/saham. Sejak sepekan terakhir, sahamnya juga mengalami kenaikan 17,65%.

ABBA terakhir kali mengumumkan kinerja keuangan pada semester I-2024, yang masih membukukan kerugian bersih sebesar Rp1,67 miliar. Pendapatan bersih tercatat Rp79,66 miliar, naik 8,71% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Namun, ABBA masih mencatatkan defisiensi modal sebesar Rp110,6 miliar.

Kemudian, ada juga PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Emiten yang terafiliasi dengan Dudy Purwaghandy, yang juga memiliki hubungan dengan konglomerat Kalimantan Haji Isam tersebut memiliki notasi khusus X.

BEI menyematkan notasi tersebut lantaran PGUN memiliki likuiditas rendah dengan rata-rata nilai transaksi saham hariannya kurang dari Rp5 juta. Selain itu, rata-rata volume transaksi sahamnya kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir.

Saham PGUN sejak pagi ini mengalami kenaikan tipis sebesar 0,48% atau 2 poin ke level 420 selama sepekan terakhir.

PGUN terakhir kali mengumumkan kinerja keuangan pada semester I 2024, yang juga tercatat negatif dengan penurunan total penjualan bersih sebesar 35,97% menjadi Rp258,5 miliar. Selain itu, laba bersih juga anjlok 76,37% yoy menjadi hanya Rp10,57 miliar.

(ibn/dhf)

No more pages