Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar saham menutup Sesi II perdagangan Selasa (15/10/2024) dengan kenaikan 0,89% menjadi 7.626 tersengat kepastian Sri Mulyani kembali menjadi Bendahara Negara di pemerintahan yang akan datang.
Mencuatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditopang oleh saham-saham perbankan kakap jelang penutupan pasar hari Selasa, dengan deretan saham LQ45 mencatatkan top gainers seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 3,97% ke level Rp9.825/saham, kemudian PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) 2,5% ke Rp3.280/saham.
Posisi Menteri Keuangan di pegang Sri Mulyani dengan kabar terbaru hadirnya tiga pejabat setingkat wakil menteri yang akan dipegang oleh Thomas Djiwandono, Suahasil Nazara, juga Anggito Abimanyu.
Jabatan kunci menteri keuangan menjadikan risiko fiskal dalam jangka menengah kembali turun, “menyusul kemungkinan pengangkatan kembali menteri keuangan yang sedang menjabat,” tulis Citigroup Inc, dikutip dari Bloomberg News.
Kemudian pada pemerintahan baru usai Joko Widodo (Jokowi) lengser pada 20 Oktober 2024, terdapat peluang yang lebih kecil Presiden Prabowo dapat menghapuskan batas legal defisit anggaran atau meningkatkan rasio utang publik untuk membiayai program-program prioritas, terang Citigroup.
Usai bertamu di Kertanegara, rumah Prabowo, Sri Mulyani menyampaikan “saat pembentukan kabinet, beliau meminta saya untuk kembali menjadi Menkeu lagi.”
Menurut Sri Mulyani, saat memimpin pemerintahan Prabowo akan serius memperkuat keuangan negara untuk mendukung program pemerintah ke depan. Ia pun menyatakan “kami akan membantu semaksimal mungkin.”
Untuk diketahui sebelumnya, sebagian kalangan menganggap Sri Mulyani akan menuntaskan masa baktinya sebagai Menkeu seiring lengsernya Presiden Jokowi 20 Oktober nanti.
Tidak seperti IHSG, kinerja kurs rupiah justru menurun 0,13% ke level Rp15.575/US$ Selasa sore. Daya magis 'SMI effect' tidak mempan untuk rupiah. “Pasar masih menanti pemilihan kabinet presiden Prabowo Subianto mendatang dengan kemungkinan adanya rencana kenaikan PPN yang akan ditunda,” tulis Trimegah Securities.
Hari ini juga dipublikasikan kinerja neraca perdagangan bulan September yang melemah. Terjadi potensi pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal III-2024.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) atas ekspor lesu. Mengindikasikan permintaan global yang masih belum pulih.
Pada saat yang sama imporlebih anjlok. Mencerminkan dampak kelesuan permintaan dunia usaha dan daya beli masyarakat di tengah kontraksi manufaktur tiga bulan terakhir.
(wep)