Alfred Cang, Low De Wei, dan Serene Cheong - Bloomberg News
Bloomberg, Mantan taipan minyak Singapura, Lim Oon Kuin, akan dijatuhi hukuman pada 18 November atas penipuan dan pemalsuan dalam skandal perdagangan yang akan tercatat dalam buku sejarah sebagai salah satu skandal terbesar di pusat perdagangan energi global tersebut.
Di pengadilan Singapura pada Selasa (15/10/2024), jaksa penuntut umum Christopher Ong mengajukan tuntutan hukuman penjara 20 tahun bagi Lim atas tiga tuduhan, termasuk melakukan pemalsuan dan menipu HSBC Holdings Plc. Pengacara pembela Lim yang dipimpin Davinder Singh meminta hukuman tujuh tahun.
Pria berusia 82 tahun yang dikenal sebagai OK Lim itu tiba di pengadilan dengan kursi roda.
Vonis ini merupakan perkembangan terbaru dari kehancuran dramatis Lim, pendiri perusahaan minyak yang kini sudah gulung tikar, Hin Leong Trading Pte.
Lim mengajukan kebangkrutan perusahaannya pekan ini setelah setuju membayar US$3,59 miliar kepada likuidator dan kreditor HSBC untuk menyelesaikan gugatan perdata selama beberapa tahun terhadap dirinya dan keluarganya.
Pada tahun 2020, Bloomberg News yang pertama melaporkan bahwa sedikitnya dua pemberi pinjaman telah membekukan jalur kredit untuk Hin Leong, dengan alasan kekhawatiran atas kemampuan perusahaan untuk melunasi utangnya.
Pada bulan-bulan berikutnya, terungkap bahwa Lim telah menyembunyikan kerugian ratusan juta dolar dengan mengadu untung pada kontrak minyak berjangka dan menjual persediaan yang dijaminkan untuk pinjaman.
Trader Berkelas
Lim, yang lebih dikenal sebagai OK Lim, mendirikan Hin Leong pada tahun 1973 sebagai distributor minyak dengan satu truk. Selama bertahun-tahun, ia mengembangkan perusahaan yang dikelola keluarga tersebut menjadi pedagang minyak independen terbesar di Singapura, bisnisnya mulai dari pengisian bahan bakar hingga penyimpanan.
Pada masa kejayaannya, perusahaan perdagangan lokal tersebut sangat dihormati sebagai salah satu pedagang solar dan bahan bakar kapal yang paling berani dan paling tertutup.
Perusahaan, yang memiliki saham di tangki penyimpanan di Singapura serta armada kapalnya sendiri, ini mampu memonopoli pasar dengan pengetahuannya tentang persediaan di dalam dan di sekitar pusat tersebut, yang memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain teratas di kawasan tersebut.
Namun, anjloknya harga minyak pada tahun 2020 membuat kerajaan Lim runtuh. Ia awalnya menghadapi 130 tuntutan setelah perusahaannya dituduh menyembunyikan kerugian lebih dari US$800 juta dan menyebabkan lebih dari 20 bank menanggung kewajiban yang sangat besar.
Kasus Hin Leong telah mencoreng reputasi Singapura yang diperoleh dengan susah payah sebagai pusat utama perdagangan dan pembiayaan energi terkemuka, dan merusak kepercayaan publik terhadap negara-kota tersebut, kata jaksa Ong.
Ia menggambarkan skandal tersebut sebagai "yang belum pernah terjadi sebelumnya" dalam sejarah negara tersebut. Pengacara Lim, Singh membantah keras klaim jaksa, dengan menyinggung pelanggaran dan kerugian yang lebih berat dari kasus-kasus sebelumnya, termasuk yang melibatkan Agritrade International Pte.
Dalam beberapa tahun terakhir, Singapura telah diguncang oleh banyak skandal perdagangan dan pembiayaan komoditas. Dari Agritrade hingga Noble Group Ltd, dan ZenRock Commodities Trading Pte hingga Hontop Energy (Singapore) Pte Ltd, kasusnya seputar penipuan dan pemalsuan dokumen yang merupakan tulang punggung pembiayaan komoditas terkemuka. Skandal-skandal ini melibatkan puluhan bank, termasuk HSBC, DBS Group Holdings Ltd, dan CIMB Bank.
Lim dan keluarganya telah berupaya mengumpulkan uang dengan menjual aset, termasuk properti dan bisnisnya dalam beberapa tahun terakhir. Singh, yang mewakili Lim, menyoroti kondisi kesehatan kliennya dan potensi dampak hukuman penjara terhadap pria berusia delapan puluhan itu.
(bbn)