Niclas Rolander - Bloomberg News
Bloomberg, Swedia mengungkap operasi peretasan Iran dengan mengirim pesan teks, dalam upaya untuk menebar ketakutan di negara Nordik tersebut.
Jaksa penuntut Swedia menyatakan pada Selasa (24/09/2024) bahwa Iran bertanggung jawab atas pengiriman 15.000 pesan teks pada 1 Agustus 2023. Pesan-pesan tersebut diduga bertujuan memprovokasi penerima guna membalas dendam atas insiden pembakaran Al-Quran di Swedia. Pesan-pesan tersebut menyatakan bahwa "orang-orang yang menghina Al-Qur'an harus membayar perbuatan mereka."
Serangan siber ini terjadi di tengah ketegangan saat Swedia tengah mengupayakan keanggotaannya dalam NATO. Beberapa insiden pembakaran Al-Quran memicu kemarahan di dunia Muslim, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang berperan penting dalam mengizinkan Swedia bergabung dengan aliansi pertahanan tersebut.
"Investigasi menemukan bahwa Iran, melalui Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), meretas perusahaan Swedia yang mengelola layanan pesan teks," kata Jaksa senior Mats Ljungqvist dalam sebuah pernyataan. "Tujuannya adalah meningkatkan ketegangan dan memicu konflik di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat Swedia."
Dua minggu setelah pesan-pesan ini dikirim, Swedia menaikkan tingkat ancaman teror menjadi empat dari lima. Pada bulan Oktober, dua penggemar sepak bola asal Swedia dibunuh dalam serangan teroris di Brussels. Meskipun penyelidik berhasil mengidentifikasi peretas asal Iran, penyelidikan dihentikan karena pelaku tidak dapat didakwa atau dibawa ke Swedia untuk diadili.
(bbn)