Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Meskipun sejumlah bank digital berhasil tumbuh agresif, namun PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) malah mencatatkan pertumbuhan negatif yang signifikan.

Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini mencatatkan penurunan aset lebih dari 50% dalam 2 tahun terakhir, setelah perusahaan memutuskan bertransformasi menjadi bank digital.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan, total aset perusahaan tercatat Rp13,89 triliun pada akhir 2022. Nilai ini turun 17,6% dibandingkan setahun sebelumnya, dan turun lebih dari 50% dibandingkan 2020, yang tercatat Rp28,01 triliun.

Sejalan dengan aset, portofolio kredit perusahaan juga menurun signifikan. Pada 2020, perseroan membukukan kredit Rp19,5 triliun, dan turun menjadi Rp11,6 triliun pada 2021 dan menjadi Rp7,77 triliun pada 2022. Dalam kurun 2 tahun, outstanding Bank Raya merosot 60%, suatu fenomena yang jarang terjadi di perbankan Indonesia.

Setali tiga uang dengan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun juga merosot tajam. Pada 2020, outstanding DPK tercatat Rp22,99 triliun, turun ke Rp13,49 triliun pada 2021, dan menjadi Rp9,81 triliun pada 2022. Selama 2 tahun DPK mencatatkan penurunan 57%.

Dari sisi bottom line, perseroan mencatatkan laba bersih Rp11,46 miliar pada kinerja 2022. Laba ini tergolong mini karena pada tahun sebelumnya perseroan mencatatkan rugi jumbo Rp3,04 triliun. Saat ini saldo kerugian Bank Raya masih tercatat Rp2,83 triliun yang menghalangi perseroan untuk membagi dividen.

Akibat kerugian yang terjadi pada 2021, ekuitas perseroan tersisa Rp3,39 triliun pada 2022.

Sekretaris Perusahaan Bank Raya Ajeng Putri Hapsari menjelaskan penurunan aset terjadi sebagai dampak dari langkah strategis Bank Raya untuk melakukan penataan kembali portfolio bisnis untuk fokus pada pengembangan bisnis digital, khususnya di tengah proses transformasi menjadi bank digital.

"Hal ini sejalan dengan fokus Bank Raya untuk meningkatkan kualitas aset melalui peningkatan porsi CASA, serta penyaluran pinjaman pada debitur dengan ticket size kecil yang bertenor pendek," ujar Ajeng Putri.

Dia menjelaskan, sebagai Bank Digital, meskipun aset yang dimiliki sudah tidak sebesar tahun 2020, tapi perseroan berharapbisa memperbaiki NIM dan kualitas aset yang terjaga. Bank Raya hingga saat ini fokus dalam menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional dan meningkatkan profitabilitas melalui pertumbuhan bisnis digital. 

"Pada tahun 2023 ini, Bank Raya akan fokus pada pertumbuhan bisnis digital melalui pengembangan produk dan fitur digital lending dan digital saving Bank Raya, meningkatkan sinergi dengan BRI Group dan ekosistem digital, serta pengelolaan aset melalui revamp untuk meningkatkan kinerja perusahaan," ujarnya.

Catatan redaksi: Tulisan ini diupdate dengan memasukan pernyataan dari pihak Bank Raya.

(roy/hps)

No more pages