Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan bea keluar (BK), pungutan ekspor (PE), dan domestic market obligation (DMO) untuk ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) di tengah tren harga yang cenderung melembam.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan beban BK, PE, dan DMO CPO saat ini sekitar US$138 per ton. Hal ini pada akhirnya menyebabkan harga CPO Indonesia kalah kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, seperti minyak bunga matahari.

“Kalau harga sedang tidak kompetitif ya sementara komponen fiskal tersebut bisa diturunkan,” ujar Eddy kepada Bloomberg Technoz, dikutip Kamis (29/8/2024).

Eddy mengatakan penurunan komponen fiskal itu harapannya bisa dikompensasi dengan peningkatan volume ekspor. Dengan demikian, kas untuk PE bisa terkompensasi dengan peningkatan volume ekspor tersebut.

“Kalau itu turun kemudian volume ekspor bisa naik kan jadi mirip-mirip saja,” ujar Eddy. 

Cadangan minyak sawit dunia./dok. Bloomberg

Surplus produksi CPO diperkirakan menurun pada 2025, tetapi harga komoditas hasil perkebunan tersebut diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun depan.

Terkait dengan hal itu, BMI —lengan riset Fitch Solutions, bagian dari Fitch Ratings — mengestimasikan surplus CPO dunia pada 2025 akan mencapai 1,3 juta ton, turun dari perkiraan 1,9 juta ton pada tahun ini, sekaligus menandai titik terendah dalam empat musim.

“Meskipun demikian, kami memperkirakan harga CPO rata-rata akan lebih rendah pada 2025, MYR3.650 per ton, dibandingkan dengan 2024 karena hambatan dari sisi permintaan dan basis yang masih tinggi akibat lonjakan harga pada 2022 di antara faktor-faktor lainnya,” papar mereka dalam laporannya.

Di sisi lain, melemahnya pasar kedelai dapat menyebabkan peningkatan penggunaan minyak kedelai dalam negeri oleh China, yang juga akan membebani permintaan impor minyak sawit raksasa Asia Timur itu.

Sekadar catatan, BMI mengestimasikan rerata harga CPO di Bursa Malaysia pada 2024 mencapai MYR3.850/ton, naik tipis 2,67% dari proyeksi sebelumnya di MYR3.750/ton.

CPO telah naik 0,70% secara year to date (ytd) hingga 9 Agustus ketika harga menutup sesi perdagangan di MYR3.74/ton, atau 0,64% lebih rendah dari levelnya 12 bulan sebelumnya.

“Pada gilirannya, kami telah menaikkan perkiraan harga rata-rata CPO untuk 2025 dari MYR3.500/ton menjadi MYR3.650/ton,” papar BMI.

(dov/wdh)

No more pages