Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga emas berkibar berkat pernyataan gamblang Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu menandai akan dimulainya siklus penurunan bunga global. Namun, lonjakan harga emas dunia itu nyatanya tidak otomatis mengungkit banderol emas produksi PT Aneka Tambang Tbk hari ini.
Mengacu pada data yang dilansir oleh Divisi Logam Mulia Antam Senin hari ini, harga emas batangan yang dijual oleh Antam tidak berubah yakni masih di level Rp1.420.000 per gram. Level harga itu sama dengan harga hari Sabtu lalu.
Sementara harga pembelian kembali oleh Antam, buyback price, juga tidak berubah, masih di Rp1.267.000 per gram.
Harga emas Antam yang anteng itu sepertinya dipengaruhi oleh penguatan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Alhasil, lonjakan harga emas di pasar dunia, tidak serta merta membuat harga emas lokal ikut terungkit naik.
Mengacu data Bloomberg, harga emas dunia masih belum menjebol rekor baru meski pernyataan Powell menjadi kabar sangat baik bagi emas.
Pada Jumat lalu emas dunia sempat melonjak 1,1%, sedangkan pada pagi ini harga emas spot di pasar global bergerak stabil di kisaran US$2.513,12 per troy ounce. Level rekor harga emas dunia termahal dalam sejarah tercipta pada 20 Agustus lalu di posisi US$2.513,99 per troy ounce.
Penguatan harga emas dunia yang tidak mampu mengungkit harga emas Antam memecah lagi rekor tertinggi baru, terakhir terjadi pada 1 Agustus lalu di harga Rp1.433.000 per gram, lebih karena pelemahan harga dolar AS.
Sebagaimana diketahui, penentuan harga emas Antam dipengaruhi oleh tiga hal. Yaitu, harga emas spot dunia, kurs rupiah terhadap dolar AS, dan tingkat margin keuntungan yang diambil oleh Antam.
Rupiah mencatat penguatan 1,27% pekan lalu dan membukukan lonjakan nilai hingga 4,74% selama Agustus saja, membuat kenaikan harga emas dunia ter-offset pelemahan dolar AS di dalam negeri. Alhasil, kenaikan harga emas Antam tidak sebanyak kenaikan harga emas spot dunia.
(rui)