Bloomberg Technoz, Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengungkapkan bahwa meningkatnya nilai impor bahan baku/barang penolong pada Juli 2024 merupakan anomali di tengah lesunya kinerja manufaktur nasional pada bulan yang sama.
Tauhid mengatakan kenaikan impor bahan baku/barang penolong tersebut hanya dimanfaatkan untuk produksi dan ekspansi di beberapa sektor industri saja, khususnya industri hilir pertambangan mineral logam.
"Saya lihat impor bahan baku banyak digunakan untuk beberapa industri, khususnya industri logam dasar, industri barang dari logam, barang elektronik, juga industri kimia dan farmasi yang sebagai besar bahan bukunya dari impor," ujar Tauhid saat dihubungi, Jumat (16/8/2024).
Dengan demikian, terjadi ketidakmerataan impor golongan bahan baku/penolong sebagai penopang industri, meski nilai realisasinya naik 17,21% pada Juli 2024.

Pasalnya, bila bahan baku impor mengalami kenaikan, seharusnya hal tersebut jadi turut menopang aktivitas industri manufaktur. Namun, hal ini justru jadi anomali lantaran, kenaikan nilai impor tersebut tidak turut didukung dengan geliatnya industri. Hal ini tecermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) RI yang turun.
Sekadar catatan, jika PMI di bawah 50 menandakan aktivitas yang sedang terkontraksi, bukan ekspansi. Sementara, S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan PMI, Indonesia berada di angka 49,3, dan ini menjadi kali pertama sejak Agustus 2021.
Terkait dengan menurunnya PMI manufaktur dalam negeri, Tauhid justru menyebut hal itu terjadi lebih kepada dropnya sebagian kecil industri seperti tekstil hingga mesin peralatan.
"PMI turun karena industri lainnya drop seperti industri tekstil, kulit dan barang dari kulit, serta industri mesin dan peralatan. Bahkan importasi mesin dan peralatan paling tinggi, sehingga produksi industri mesin dan peralatan ikut drop," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar melaporkan nilai impor pada Juli 2024 tercatat US$21,74 miliar, atau melonjak 17,82% dibandingkan dengan Juni 2024. Kelompok migas yang mengalami peningkatan impor cukup tinggi adalah impor hasil minyak.
Selain itu, ia menyebutkan bahwa nilai impor migas pada Juli 2024 tercatat senilai US$3,56 miliar, atau naik 8,78% (mtm), sedangkan impor non-migas sebesar US$18,18 miliar, melonjak 19,76% (mtm).
Sementara, nilai impor berdasarkan golongan penggunaan barang, bahan baku/penolong mengalami peningkatan U$2,35 miliar atau naik 17,21% pada Juli 2024. Selama Januari-Juli 2024 bahan baku/penolong US$2,44 miliar naik 2,60%.
Dilihat dari peranannya selama Januari–Juli 2024, golongan bahan baku/penolong juga disebut mendominasi dengan nilai US$96,41 miliar, naik 73,39%.
(prc/wdh)