Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar keuangan Indonesia hari ini terlihat cukup kondusif jelang keputusan bank-bank sentral utama dunia yang berdampak besar pada arah perekonomian global ke depan. Investor terlihat menyerbu pasar saham dan surat utang negara. Rupiah yang dibuka lemah tadi pagi, kini berbalik ikut menguat bersama mata uang Asia lain.
Keputusan lembaga pemeringkat S&P kembali mengafirmasi lagi peringkat kredit Indonesia di posisi BBB, satu tingkat di atas peringkat investment grade dengan outlook stabil, sepertinya cukup memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di awal perdagangan dan saat ini masih bergerak di zona hijau di 7.250,71. Sementara pergerakan harga obligasi negara juga mayoritas naik. Mengacu data realtime Bloomberg pagi ini, Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2Y terkikis ke 6,616%, sedangkan genor 5Y juga turun ke 6,741% disusul oleh tenor 10Y yang tergerus yield-nya ke 6,930%.
Hanya tenor 1Y, 3Y dan 6Y yang saat ini masih membukukan kenaikan imbal hasil, indikasi harganya tertekan di pasar.
Pergerakan positif pasar saham dan obligasi itu agaknya menular ke pasar valuta spot di mana rupiah yang tadi pagi dibuka lebih lemah, saat ini bergerak menguat meski masih terbatas di kisaran Rp16.295/US$, naik 0,04% dibanding posisi hari sebelumnya.
Keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dan outlook stabil seolah menjadi penyeimbang kekhawatiran yang sempat terbit di pasar surat utang, seiring peringatan beberapa lembaga pemeringkat dan bank investasi terkait prospek kebijakan fiskal RI ke depan yang bisa berdampak pada pamor surat utang.
Bukan cuma itu, beberapa bank investasi global juga menurunkan peringkat saham Indonesia sehingga membuat prospek ke depan agak suram di pasar portofolio domestik.
Seperti diketahui, lembaga pemeringkat Fitch Ratings sempat mengeluarkan peringatan terkait arah kebijakan fiskal pemerintahan baru nanti yang memicu risiko di pasar surat utang dalam jangka menengah. Kekhawatiran itu telah membuat pemodal asing banyak yang hengkang dari pasar surat utang di mana sepanjang tahun ini hingga data transaksi 25 Juli, asing masih mencetak posisi net sell di SBN sebesar Rp32,08 triliun.
Selain karena minat pemodal asing yang semakin banyak tersedot ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, di tengah ketidakpastian global yang membebani pasar keuangan dunia sepanjang tahun ini.
Keputusan Morgan Stanley dan HSBC menurunkan peringkat investasi saham di Indonesia juga semakin membuat pesona aset-aset domestik terseret.
Maka, pengumuman dari S&P Global yang dilansir kemarin seakan menjadi penyeimbang baru yang memberikan optimisme lebih besar ke depan. Terlebih, keyakinan bahwa arah bunga acuan global akan mulai melonggar dalam waktu dekat, membuat pasar semakin optimistis.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai, keputusan S&P tersebut mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap prospek perekonomian Indonesia serta keyakinan terhadap langkah-langkah sinergi kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah RI dan Bank Indonesia.
"Afirmasi rating Indonesia pada peringkat BBB oleh S&P memperkuat keyakinan lembaga pemeringkat utama seperti Fitch dan Moody's yang terlebih dahulu memberikan afirmasi atas rating Indonesia pada awal tahun ini. BI terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah tantangan ketidakpastian global," kata Perry seperti dilansir di website Bank Indonesia kemarin.
Pertumbuhan Masih 5%
S&P juga mengeluarkan proyeksi pertumbuhan rata-rata RI dalam tiga-empat tahun ke depan. Angkanya tidak jauh dari saat ini, yaitu di 5%.
Permintaan domestik masih akan menjadi penyokong pertumbuhan, ditambah belanja pemerintah dan investasi swasta yang diperkirakan meningkat.
Lembaga pemeringkat yang tempo hari menurunkan peringkat utang Amerika itu, juga memandang ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap terjaga pada jangka menengah.
Kinerja sektor eksternal Indonesia didukung oleh prakiraan kenaikan ekspor sejalan dengan implementasi kebijakan hilirisasi di tengah pelemahan harga komoditas.
S&P juga mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia untuk menjaga inflasi yang terjaga sejak tahun 2010. Lembaga yang berpusat di New York itu memproyeksikan inflasi RI pada tahun 2024-2025 akan berada pada kisaran target 2,5%+1%, masing-masing sebesar 2,8% dan 3,0%.
Selain itu, inovasi strategi operasi moneter yang pro-market dengan penggunaan instrumen berbasis pasar dinilai semakin meningkatkan fleksibilitas kebijakan moneter.
Pada sektor fiskal, S&P memandang pemerintah RI tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB. "Secara umum, S&P meyakini Pemerintahan baru akan memperhatikan aspek keberlanjutan kebijakan guna menjaga kredibilitas serta menghindari disrupsi ekonomi dan keuangan yang signifikan," kata Erwin Haryono, Asisten Gubernur Bank Indonesia dalam pernyataan resmi.
(rui/aji)