Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Presiden Direktur Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho Pranatyasto menuturkan sejumlah tantangan pada pengembangan teknologi industri baterai secara global. 

Dalam pandangannya, Toto menilai bahwa dinamika geopolitik antara China dengan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu yang harus diwaspadai. 

"Saat ini, Amerika Serikat memberlakukan pembatasan IRA (Inflation Reduction Act), yang mengharuskan bahan baterai diambil dari dalam negeri. Ada insentif sebesar US$7.500 (Rp122 juta) untuk hal tersebut. Dengan dinamika pemilihan presiden di AS yang akan datang, kami harus memantau ini dengan cermat," ungkap Toto dalam agenda International Battery Summit 2024, di Jakarta Pusat, Senin (29/7/2024). 

Lebih lanjut, dalam paparannya Toto menyebut bahwa persaingan geopolitik keduanya akan memicu AS untuk berinvestasi besar-besaran dalam produksi baterai secara domestik guna mengurangi ketergantungan mereka terhadap rantai pasok China. 

Oleh karena itu, Toto menyoroti bahwa bila ada perubahan presiden AS ke arah yang lebih Republikan, maka hal tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia. 

"Jika presiden berubah, kita mungkin tidak lagi tunduk pada pembatasan IRA saat ini, sehingga kita bisa mengekspor bahan baterai ke AS. Meskipun Trump mengatakan akan menghapus insentif EV," sambungnya. 

Tantangan lainnya yang dihadapi industri baterai global yakni pentingnya pengembangan tenaga kerja yang terampil dalam industri baterai. Menurutnya tenaga kerja yang memenuhi syarat saat ini sangat terbatas terlebih untuk menguasai bahan baterai, katoda, dan sel baterai, sehingga dibutuhkan pelatihan yang baik. 

Dirinya juga mengungkapkan bahwa penciptaan permintaan domestik juga menjadi tantangan. Pasalnya di Indonesia saat ini, hanya memiliki sekitar 27,000 kendaraan listrik roda empat dan 100,000 kendaraan listrik roda dua, yang setara dengan 1,5 gigawatt per jam. Sehingga, potensi produksi mencapai 900 gigawatt per jam, tapi jika tidak ada permintaan lokal, maka sebagian besar bahan dan sel baterai akan diekspor. 

"[tantangan] lainnya adalah investasi. Jadi investasi dan kompleksitasnya, orang melihat baterai itu sangat sederhana, tetapi jika anda ingin berkreasi mulai dari penambangan hingga sel baterai, investasinya sangat besar," pungkasnya. 

(prc/spt)

No more pages