Bloomberg Technoz, Jakarta - Hasil riset BMI memproyeksikan wisatawan asing yang datang ke Indonesia akan meningkat pada 2024.
Lembaga riset ini memproyeksikan wisatawan yang masuk RI mencapai 16,3 juta. Tumbuh 39,3% jika dibandingkan tahun ke tahun (YoY) dengan jumlah di tahun 2023 sebanyak 11,7 juta.
Kedatangan tahun 2024 akan menandai pemulihan penuh karena naik di atas level sebelum pandemi pada tahun 2019, ketika kedatangan mencapai 16,1 juta.
“Proyeksi kami didasarkan pada data frekuensi tinggi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kedatangan wisatawan ke Indonesia antara Januari-Mei 2024 sebanyak 5,2 juta,” menurut keterangan dalam riset yang diterima, Jumat (19/7/2024).
BMI juga mengutarakan pada 5 Februari 2024, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia mengumumkan telah meningkatkan target pariwisatanya untuk tahun 2024 dari 14,3 juta kedatangan menjadi sekitar 17,0 juta.
Revisi target ini diinformasikan oleh jumlah kedatangan yang lebih tinggi pada tahun 2023 yang lebih tinggi dari target Kementerian sebanyak 7,4 juta kedatangan untuk tahun yang sama.

“Dalam jangka menengah (2024-2028), kami memprediksi kedatangan wisatawan ke Indonesia akan tumbuh pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 13,9%, mencapai 21,7 juta pada tahun 2028,” ungkap penelitian.
“Pertumbuhan kedatangan akan didorong oleh pasar sumber utama tradisional termasuk Malaysia, Singapura, dan Australia, serta pasar sumber utama baru dengan prospek keberangkatan yang kuat seperti Tiongkok Daratan dan India.”

Malaysia akan menjadi pasar sumber terbesar untuk kedatangan wisatawan ke Indonesia pada tahun 2024, dengan proyeksi 3,0 juta kedatangan (atau 18,4% dari total kedatangan).
China akan menempati peringkat keempat terbesar pada tahun 2024 setelah Singapura (peringkat kedua) dan Australia (peringkat ketiga), dengan proyeksi 1,2 juta kedatangan (7,5% dari total kedatangan), sementara India akan menempati peringkat kelima dengan proyeksi 662.930 kedatangan (4,1% dari total kedatangan).
Pada tahun 2028, kami memprediksi bahwa Malaysia akan mempertahankan posisinya sebagai pasar sumber utama terbesar untuk kedatangan wisatawan ke Indonesia, dengan kedatangan dari Malaysia meningkat menjadi 3,8 juta (17,8% dari total kedatangan).
China akan meningkatkan peringkatnya, menggeser Singapura dan Australia untuk menjadi pasar sumber kedatangan terbesar kedua ke Indonesia, dengan perkiraan 2,6 juta kedatangan (11,8% dari total kedatangan).
Kedatangan dari India akan meningkat menjadi 890.760 (4,1% dari total kedatangan), mempertahankan peringkatnya sebagai pasar sumber kedatangan terbesar kelima ke Indonesia setelah Singapura (peringkat ketiga) dan Australia (peringkat keempat) pada tahun 2028.
Pada Oktober 2024, Kementerian Pariwisata Indonesia bertujuan untuk menyelesaikan kebijakan pembebasan visa untuk 20 pasar sumber kedatangan utama termasuk China, India, Jerman, AS, dan UEA.
Ini mengikuti pengumuman Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada 27 Juni 2024 dan merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan kedatangan wisatawan ke pasar tersebut.
Meskipun terjadi peningkatan kedatangan, tingkat kedatangan wisatawan yang belum pernah terjadi sebelumnya akan menimbulkan risiko terhadap biaya hidup bagi penduduk setempat, serta kualitas lingkungan alam yang terpapar aktivitas pariwisata seperti terumbu karang di Bali dan Kepulauan Gili.
Pariwisata massal juga akan memberikan beban berat pada infrastruktur dan layanan publik seperti sanitasi dan transportasi.
Untuk mengatasi pariwisata massal, khususnya di destinasi populer, Indonesia telah mulai menerapkan strategi yang meliputi fokus pada pelestarian lingkungan dan pengenalan pajak wisata.
(spt)