Bloomberg Technoz, Jakarta - Australia berpotensi menuju periode kekeringan dan kebakaran hutan yang intens menjelang akhir tahun yang disebabkan oleh iklim ekstrem yang merugikan ekonomi miliaran dolar.
Beberapa wilayah di Australia sudah direpotkan oleh hujan lebat dan banjir yang merusak tanaman, jalanan yang rusak, dan menelan korban jiwa. Cuaca yang kacau diakibatkan oleh fenomena cuaca yang disebut La Nina. Namun, para peneliti iklim melihat pada masa depan akan ada kondisi yang lebih panas dan lebih kering.
“Skenario yang paling mungkin untuk akhir tahun ini adalah El Nino,” menurut Scott Power, direktur Pusat Ilmu Iklim Terapan di University of Southern Queensland dilansir Bloomberg News. Pola cuaca biasanya membawa suhu yang lebih hangat dari rata-rata ke Australia.
Dunia sedang mengalami tahun ketiga La Nina berturut-turut, sesuatu yang hanya terjadi dua kali sejak tahun 1950. Australia adalah benua berpenghuni paling kering sehingga dampak perubahan iklim bisa sangat keras. Banjir bisa merugikan ekonomi sekitar US$3,5 miliar pada tahun fiskal 2021-2022, yang mengikuti kerugian akibat kebakaran hutan dahsyat pada musim panas 2019-2020.
Hujan selama tiga tahun terakhir telah menyebabkan pertumbuhan tanaman berlebihan yang dapat menimbulkan risiko kebakaran hutan jika kondisi menjadi lebih panas dan kering, kata Agus Santoso, ilmuwan iklim di University of New South Wales.
Sependapat dengan Agus, Janette Lindesay, Profesor di Australian National University, mengatakan hal yang sama. “Yang dibutuhkan hanyalah hari yang panas, berangin dan sesuatu yang dapat terbakar, maka terjadilah,” katanya.
Cuaca basah yang berkepanjangan juga mempersulit apa yang disebut pembakaran untuk mengurangi bahaya kebakaran. Upaya dimaksud adalah pihak berwenang melakukan pembakaran terkendali untuk memangkas vegetasi mati dan kering yang mudah terbakar.
Model iklim oleh Biro Meteorologi Australia menunjukkan La Nina telah melemah dari puncaknya pada tahun 2022. Kompilasi perkiraan internasional rata-rata di situs web departemen menandakan kondisi yang mengarah ke El Nino, tetapi biro tersebut memperingatkan tentang prakiraan jangka panjang.
Kebakaran hutan pada akhir 2019 dan awal 2020 membakar area seukuran Inggris dan membunuh sekitar 1 miliar hewan asli Australia. Prospek cuaca yang lebih ekstrim menimbulkan kekhawatiran bagi para petani yang khawatir tidak bisa bercocok tanam dalam beberapa bulan mendatang. Australia adalah salah satu pengekspor biji-bijian terbesar di dunia.
“Tidak pasti kami akan dapat menanam kanola, atau barli, atau gandum dalam waktu beberapa bulan. Ketidakpastian dalam lima tahun terakhir jauh lebih tinggi dibandingkan dekade sebelumnya,” kata Xavier Martin, presiden Petani NSW.
(adm/bbn)