Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom Senior INDEF Faisal Basri menyebutkan banyaknya tambahan belanja pemerintah menjadi salah satu faktor defisit anggaran melebar hingga diprediksi mencapai 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir tahun.
Ia menjelaskan, belanja tambahan seperti biaya pembayaran bunga utang, tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan Ibukota Nusantara (IKN), hingga tambahan subsidi energi jadi faktor utama melebarnya defisit dari yang sebelumnya telah dipatok pada APBN 2024 sebesar 2,29%.
“Ada belanja tambahan misalnya PMN kemarin mereka rapat di hotel minta tambahan PMN, bayar bunganya naik, ini jadi upacara 17 Agustus di IKN itu biayanya mahal banget, tambahan subsidi,” ungkap Faisal Basri saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (10/7/2024).
Meski demikian, ia menyatakan faktor utamanya melebarnya defisit diakibatkan turunnya penerimaan negara termasuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari perkiraan yang telah ditetapkan dalam APBN.
Turunnya penerimaan, kata Faisal, dipengaruhi oleh normalisasi harga komoditas karena penerimaan negara dari komoditas begitu besar. Ia menyebut di PNBP saja tercatat lebih dari 50% berasal dari sektor Sumber Daya Alam (SDA).
“Kemudian profit dari perusahaan komoditas juga turun karena harganya turun. Ketiga saya tidak terlalu tahu persis, tapi PPN PPnBM itu kemungkinan juga turun,” turtur Faisal.
Ia mengatakan, penurunan setoran PPn dan PPnBM tercermin dari turunnya penjualan mobil yang terjadi. Menurutnya, pada Mei 2024 saja penjualan mobil turun 20% dan penjualan motor turun, meskipun hanya 1%.
Dengan demikian, Faisal menegaskan terdapat indikasi daya beli masyarakat yang melambat. Sebab, penjualan mobil dan motor bisa menjadi salah satu indikator daya beli masyarakat.
“Daya beli turun. Emang daya beli turun,” pungkas Faisal.
Sebagai informasi, Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan pemerintah sepakat meningkatkan target defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2024 menjadi Rp609,7 triliun atau 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Padahal semula pemerintah menargetkan defisit fiskal hanya Rp522,8 triliun atau 2,29% terhadap PDB.
Kedua pihak juga menyetujui penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp100 triliun akibat pelebaran defisit yang terjadi. Dalam perkembangannya, pemerintah telah membukukan defisit anggaran Rp77,3 triliun pada Juni 2024.
“Dengan demikian apakah laporan semester dapat disetujui dan jadi kesimpulan DPR, pemerintah, dan Bank Indonesia dalam realisasi semester-I dan prognosis semester-II APBN 2024, apakah dapat disetujui?” tanya Wakil Ketua Banggar Cucun Ahmad, di Ruang Rapat Banggar DPR RI, Selasa (9/7/2024).
(azr/lav)