Bloomberg Technoz, Jakarta - Copernicus Climate Change Service (C3S) melaporkan Juni 2024 mencetak rekor suhu terpanas di seluruh dunia.
“Setiap bulan sejak Juni 2023 panas global dalam 13 bulan berturut-turut melampaui rekor suhu tertinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar C3S dikutip dari Channel News Asia.
Pakar atau pemantau iklim Uni Eropa menilai hal ini tidak dapat dihindari selama kebiasaan manusia terus menambah gars-gas yang memerangkap panas ke atmosfer.
“Ini lebih sekedar keanehan statistik dan ini menyoroti perubahan iklim besar dan berkelanjutan. Bahkan jika kejadian ekstrem ini berakhir suata saat nanti, kita pasti akan melihat rekor-rekor baru dipecahkan seiring dengan terus memanasnya iklim,” kata direktur layanan, Carlo Buantempo.
Jumlah korban tidak dapat dipastikan
Para pejabat di Miami-Dade County, Florida, bingung saat ingin mengetahui berapa banyak orang yang meninggal karena cuaca panas ekstrem. Mereka pun meminta bantuan Christopher Ueijo, seorang ahli geografi di Florida State University.
Ueijo menggunakan data suhu dan catatan kematian untuk menentukan bahwa antara tahun 2015 dan 2019, panas terik membunuh rata-rata 34 orang per tahun di wilayah tersebut yang seharusnya bisa tidak meninggal dunia.
Perkiraannya ini lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi daripada angka resmi: Selama periode yang sama, Miami-Dade hanya mengklasifikasikan dua kematian terkait panas.
Sekitar setahun kemudian, Ueijo melakukan analisis kedua terhadap data yang sama. Kali ini, ia memperhitungkan peningkatan suhu sebelum puncak gelombang panas untuk menangkap lebih banyak dampak kesehatan awal dan kumulatif. Temuan terbaru, yang diterbitkan pada Mei, sangat berbeda: 600 kematian akibat panas per tahun.
"Keduanya adalah studi yang ditinjau oleh rekan sejawat," kata Jane Gilbert, kepala petugas penanggulangan panas untuk Miami-Dade County yang menugaskan kedua analisis tersebut.
"Saya bertanya [kepada Ueijo] mana yang harus saya gunakan, dan dia berkata antara 34 dan 600."
(spt)