Marton Kasnyik - Bloomberg News
Bloomberg, Presiden China Xi Jinping mengulangi seruannya untuk gencatan senjata di Ukraina dalam sebuah pertemuan mendadak dengan Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban. Kunjungan Orban ke Beijing ini telah membuat marah Eropa atas "misi perdamaian" yang dibuat-buat.
Xi mengatakan bahwa prioritas saat ini adalah "deeskalasi secepat mungkin," menurut sebuah unggahan di X oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri di Beijing, yang menggemakan komentar yang telah dibuat oleh negaranya sejak invasi skala penuh Rusia pada tahun 2022.
Orban memuji China. Menurut outlet berita MTI yang dikelola pemerintah Hungaria, ia memujinya dengan "ketegasan dan stabilitas." Komentar Xi sepertinya tidak akan banyak membantu untuk mengakhiri pertempuran.
Beijing telah berusaha untuk menggambarkan dirinya sebagai pihak yang netral sejak serangan Rusia. Namun, Beijing telah mengembangkan persahabatan yang mendalam dengan Moskow sebagai bagian dari yang disebut oleh Xi dan Vladimir Putin sebagai persahabatan "tanpa batas."
Menggarisbawahi kedekatan mereka, Xi dan Putin telah bertemu lebih dari 40 kali sejak pemimpin China tersebut berkuasa pada tahun 2012.
Dalam sebuah pertemuan di Beijing pada Mei, mereka sepakat untuk memperketat koordinasi, termasuk di antara militer mereka, untuk melawan yang mereka sebut sebagai "sikap Washington yang merusak dan bermusuhan." AS telah menjadi pendukung kuat Ukraina, terutama secara militer.
China memaparkan 12 poin cetak biru yang samar-samar untuk perdamaian pada awal 2023 yang sebagian besar diabaikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam perang. Kelemahan mendasarnya adalah tidak menjelaskan bagaimana wilayah yang telah direbut Rusia akan ditangani.
Awal tahun ini, China dan Brasil menyerukan konferensi internasional yang diakui oleh Rusia dan Ukraina untuk membahas proposal untuk menghentikan perang. Gagasan tersebut muncul tepat sebelum konferensi mengenai perang yang diselenggarakan oleh Swiss yang tidak dihadiri oleh Beijing.
Lawatan Orban ke China dilakukan setelah ia bertemu dengan Putin di Moskow. Kunjungan tersebut memicu tanggapan tajam dari anggota Uni Eropa lainnya, yang telah mengkhawatirkan bagaimana Hungaria akan mendekati kepresidenan Uni Eropa yang dimulai pada 1 Juli.
"Pengekangan tidak akan menghentikan Putin," ujar Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dalam sebuah tulisan di X setelah Orban mendarat di Rusia.
Berbicara di samping pemimpin Rusia tersebut, Orban menunjukkan bahwa ia memiliki posisi untuk menjadi penengah dalam perang tersebut. Kremlin mengatakan setelah itu bahwa tidak ada kemajuan di Ukraina.
(bbn)