Bloomberg Technoz, Jakarta - Saham sektor energi mencetak penguatan dalam 2 hari terakhir perdagangan, dan saham-saham minyak dan gas (migas) juga ikut naik menyusul pengumuman penurunan produksi minyak dari OPEC+ yang secara tidak terduga pada Minggu (2/4/2023), yang mendorong harga minyak naik 7% hingga saat ini.
Keputusan organisasi negara pengekspor minyak tersebut dan sekutunya, termasuk Rusia akan mengurangi produksi lebih dari 1 juta barel/hari. Keputusan ini akan mulai diimplementasikan pada bulan depan, dan berkepanjangan hingga akhir 2023.
Imbas dari keputusan tersebut, secara cepat langsung mempengaruhi laju harga minyak dunia. Harga minyak melonjak untuk kali pertama sejak Desember 2022.
Kenaikan harga ini menyiratkan membawa angin segar kepada emiten yang bergerak pada bisnis minyak mentah, termasuk migas. Utamanya bagi mereka yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Baik secara jangka pendek atau jangka panjang secara kuartalan, nantinya akan ikut meningkatkan angka pendapatan perusahaan emiten migas.
Pada Rabu (5/4/2023) pukul 10:30 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2023 melonjak 7,2% menjadi US$ 81,1/barel.

Sedangkan, harga minyak Brent juga melesat 7,1% menjadi US$ 85,4/barel.

Dengan katalis tersebut, sejumlah saham migas yang tercatat di BEI melaju pesat dalam dua hari terakhir berdasarkan harga penutupan Selasa (4/4/2023). Senada dengan naiknya harga minyak dunia merefleksikan kebijakan OPEC+ dalam memangkas produksi minyak dunia.
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengalami lonjakan harga saham sebesar 8,9% ke level Rp 1.100/saham. Sekadar informasi, MEDC pada 2022 sukses mencatatkan proporsi pendapatan sejumlah 90% dari kontrak penjualan minyak dan gas.

Selanjutnya saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melesat 8,9% ke harga Rp 244/saham. ENRG merupakan emiten minyak dan gas dari Grup Bakrie. Adapun pada 2022 ENRG sukses mencatatkan peningkatan produksi minyak, bersamaan dengan harga rata-rata minyak dan gas yang direalisasikan di pasar global turut meningkat.

Saham PT Elnusa Tbk (ELSA) juga meningkat 5,1% pada perdagangan dua hari terakhir pasca pengumuman OPEC+. Posisi saat penutupan hari kemarin berada di Rp 328/saham. Emiten ELSA bergerak pada minyak dan gas dan merupakan anak usaha dari Pertamina Hulu Energi.
Kenaikan harga saham juga terjadi pada saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Laju gerak saham BIPI naik 9,3% ke harga Rp 164/saham. Astrindo Nusantara bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas, termasuk bisnis pada pelabuhan, jasa perdagangan, dan pertambangan.
Sebagai tambahan, pada 2022 BIPI sukses mendirikan anak usaha dengan nama PT Sagara Nusantara Energi (PTSNE) yang bergerak dalam bidang aktivitas pertambangan minyak bumi, pertambangan gas alam, pengusahaan tenaga panas bumi, industri bahan bakar, dan usaha dalam perminyakan pelumas hasil pengilangan minyak bumi.
Adapun saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) hanya naik tipis 0,9% ke Rp 1.565/saham. AKRA merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi produk minyak bumi kepada pelanggan industri seperti perusahaan pertambangan, pembangkit listrik, perkebunan dan secara komersial.
Kebijakan OPEC+
Secara lebih detail, OPEC+ berkomitmen untuk menurunkan produksi mulai bulan depan sebanyak lebih dari 1 juta barel/hari. Arab Saudi diperkirakan memangkas produksi 500 ribu barel/hari. Selain Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah, Rusia pun menyatakan bakal mengurangi produksi.
Berdasarkan kalkulasi Bloomberg menggunakan data dari Badan Energi Internasional, sebelum manuver OPEC+ disebarluaskan, pasokan minyak global diestimasikan surplus sekitar 500 ribu barel/hari dari April hingga Juni.

Adapun imbas dari pemotongan tersebut akan mulai terasa pada bulan depan, akan terlihat dari kurangnya pasokan minyak sekitar 1,1 juta barel/hari. Berlanjut hingga Juli, akibat adanya perpanjangan pengurangan pasokan Rusia, pasokan minyak mentah akan berkurang 1,6 juta barel/hari.
Arab Saudi menuturkan bahwa pemotongan itu adalah tindakan pencegahan yang bertujuan mendukung stabilitas pasar minyak.
Sekadar informasi, sebelumnya laju harga minyak mentah telah terkoreksi secara kuartalan mencapai 5,7% di tengah gejolak risiko resesi dan kekhawatiran perekonomian global.
(fad/aji)