Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Beberapa sumber Bloomberg News mengatakan Presiden Terpilih Prabowo Subianto dikabarkan akan mendanai janji kampanyenya dengan terus meningkatkan utang yang bisa membuat rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) mendekati 50% pada akhir masa jabatannya. Pernyataan mengenai rasio utang 50% terhadap PDB ternyata sudah pernah dilontarkan Prabowo Subianto.

Pernyataan ini dilontarkan Prabowo dalam sesi debat ketiga calon presiden (Capres) yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Istora Senan pada Minggu (7/1/2024) untuk menjawab pertanyaan panelis terkait utang luar negeri Indonesia dan kebijakan yang mungkin diambil untuk menghindari intervensi yang membuat utang bertambah.

Menjawab pertanyaan itu, Prabowo mengatakan uang luar negeri Indonesia saat ini tidak sampai 40% dan ini masih dalam titik aman asalkan digunakan untuk pembangunan atau kegiatan produktif.

“Utang produktif itu, saya setuju. Kita bisa [utang] sampai 50%. Enggak ada masalah. Kita tidak pernah default (gagal bayar). Kita tidak pernah default. Kita dihormati di dunia,” kata Prabowo kala itu.

Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat tiba untuk debat ketiga di Istora Senayan, Minggu (7/1/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Berdasarkan pemberitaan Bloomberg News, Pemerintahan Prabowo dikabarkan berencana untuk meningkatkan rasio utang sebesar 2 poin persentase setiap tahun selama 5 tahun ke depan. Peningkatan bertahap ini akan memberikan ruang bagi tim ekonominya menyesuaikan diri terhadap hambatan dalam menjalankan rencana-rencana kerjanya.

Sumber Bloomberg News menyatakan rasio utang sebesar 50% dipandang sebagai tingkat optimal karena akan meyakinkan investor akan komitmen Indonesia terhadap kehati-hatian fiskal, sementara rasio utang yang lebih tinggi dari 60% dapat menimbulkan kekhawatiran pasar, tambah narasumber tersebut.

Meski begitu rencana ini belum final dan masih dapat berubah. Diskusi masih sedang berlangsung.

Anggota Tim Transisi ekonomi Prabowo, Thomas Djiwandono mengatakan saat ini Presiden terpilih sedang fokus bagaimana menyesuaikan program-programnya, terutama pangan dan gizi, ke dalam APBN 2025 agar sejalan dengan target yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini sambil memastikan kehati-hatian fiskal

“Obrolan apa pun di luar itu hanyalah opini dan bukan posisi formal kami,” ujar Thomas dikutip dari Bloomberg News, Jumat (14/6/2024).

Saat ini, pemerintahan Jokowi secara ketat membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB dan rasio utang terhadap PDB maksimum sebesar 60% sejak Krisis Keuangan Asia 1997 kecuali selama pandemi.

Jika Prabowo menaikkan rasio utang Indonesia menjadi 50%, jumlah utang Indonesia masih berada di bawah negara tetangga Malaysia, Thailand, dan Singapura yang melampaui 60%.

(roy)

No more pages