Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara naik pada perdagangan kemarin. Namun si batu hitam masih terjebak dalam tren negatif.
Pada Senin (10/6/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini dibanderol US$ 133,7/ton. Naik 0,53% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
Namun dalam seminggu terakhir, harga komoditas ini masih anjlok 7,44% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga terpangkas 5,88%.
Koreksi harga yang sudah begitu dalam membuat pelaku pasar kembali melirik batu bara. Selain itu, masih ada potensi permintaan yang tinggi terutama di Asia.
Di Vietnam, misalnya, batu bara masih menjadi pilihan utama. Dalam 5 bulan pertama 2024, pembangkitan listrik bertenaga batu bara menyumbang 59% dari total bauran energi (energy mix). Bahkan ada hari-hari di mana porsinya mencapai 70%.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang sekitar 45% dan 2021 yang sebesar 41%.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara makin terbenam di zona bearish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 24,32. RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Namun yang menarik, indikator Stochastic RSI sudah berada di angka 0. Sudah paling kecil, sangat jenuh beli (oversold).
Oleh karena itu, harga batu bara berpotensi naik lagi. Target resisten terdekat ada di US$ 136/ton. Jika tertembus, maka US$ 139/ton bisa menjadi target selanjutnya.
Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 141/ton.
Sementara target support terdekat ada di US$ 129/ton. Penembusan di titik ini bisa membawa harga batu bara melorot menuju US$ 113/ton.
(aji)