Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dinilai lebih buruk ketimbang enam bulan yang lalu akibat keterpurukan kondisi penghasilan sehingga tingkat keyakinan masyarakat RI terhadap situasi ekonomi ke depan terkikis, berdasarkan hasil Survei Konsumen terbaru yang dilansir oleh Bank Indonesia, hari ini, Senin (10/6/2024). 

Semua kelas masyarakat Indonesia mengalami penurunan kondisi penghasilan terutama kelas menengah bawah. Berdasarkan hasil survei, kelas menengah bawah yang memiliki pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp4 juta per bulan, mencatat penurunan indeks penghasilan saat ini paling tajam pada Mei yaitu hingga 8 poin. Sementara kelompok di bawahnya, pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta, tergerus tipis. Sedangkan konsumen dengan pengeluaran di atas Rp4 juta dan di atas 5 juta, juga turun 1,4 poin dan 4,4 poin. 

Penghasilan yang turun membuat kondisi ekonomi tiap kelompok pengeluaran memburuk dibanding enam bulan lalu, ditambah pada saat yang sama ketersediaan lapangan kerja juga dinilai makin sempit terutama oleh kelompok dengan pengeluaran menengah bawah dan kelas atas.

Situasi yang lebih buruk dibanding enam bulan lalu membuat ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan juga melemah. Penghasilan enam bulan ke depan diperkirakan menurun terutama di kelas ekonomi bawah yang mencatat penurunan Indeks Ekspektasi Penghasilan terdalam hingga 7,9 poin.

Keyakinan terhadap ketersediaan lapangan kerja ke depan juga melorot terutama di kalangan pendapatan menengah dan atas. Bahkan kalangan ekonomi atas dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mencatat penurunan ekspektasi kegiatan usaha terbesar pada Mei.

Kondisi ekonomi yang dinilai lebih buruk saat ini ditambah ekspektasi terhadap situasi ke depan yang juga buruk, menjadikan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia pada Mei turun sebesar 2,5 poin menjadi 125,2.

Konsumsi Turun

Penurunan penghasilan ditambah sempitnya lapangan kerja membuat masyarakat Indonesia kurang optimistis dengan perekonomian ke depan. Masyarakat Indonesia juga semakin turun pengeluaran konsumsinya setelah musim Lebaran berlalu. 

Berdasarkan hasil survei yang sama, pada Mei 2024, alokasi pendapatan konsumen di Indonesia yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) turun jadi 73% dari bulan sebelumnya 73,6%. 

Pada saat yang sama, alokasi pengeluaran untuk pembayaran utang atau cicilan naik dari 9,7% pada April menjadi 10,3% pada bulan lalu. Sementara alokasi pendapatan untuk tabungan masih stabil di kisaran 16,6%.

Transaksi di Pasar Tradisional (Dok. Unsplash)

Penurunan alokasi pendapatan untuk konsumsi terutama terjadi di kelas pendapatan menengah dengan pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp4 juta. Kelompok ini mencatat penurunan alokasi konsumsi menjadi masing-masing sebesar 73,1% dan 71,8%. Pada saat yang sama, alokasi pembayaran cicilan utang dan tabungan naik tipis.

Kelompok bawah, pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta, alokasi konsumsinya turun sedang pada saat yang sama tabungan juga turun. Akan tetapi, pengeluaran untuk cicilan utang naik. 

Hasil survei konsumen terakhir ini seolah menegaskan situasi pelemahan yang tak terelakkan pasca puncak konsumsi Lebaran berakhir. Masyarakat masih menghadapi harga barang kebutuhan pokok yang tinggi di tengah ancaman penurunan pendapatan akibat kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang juga memuncak sepanjang tahun ini.

Stimulus perekonomian dibutuhkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga yang berguna untuk menggenjot roda ekonomi dengan kini konsumsi rumah tangga menjadi motor utama.

Yang terbaru, pemerintah menyatakan telah melakukan pencairan gaji ke-13 para Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI/Polri dan para pensiunan PNS, sebesar Rp32,23 triliun sampai Jumat pekan lalu. 

Pencairan gaji ke-13 ini bisa menjadi stimulus tambahan pada perekonomian domestik setelah pengucuran tunjangan hari raya (THR) pada Lebaran Maret-April lalu.

Pada musim Ramadan dan Lebaran, pengucuran tunjangan hari raya (THR) pada para PNS, TNI/Polri, pensiunan juga para pekerja swasta, telah berhasil membantu mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2024 di level 5,11%, melampaui ekspektasi.

Nilai THR yang dikucurkan pemerintah bagi pegawai negara untuk tahun ini mencapai Rp48,7 triliun. Sementara anggaran untuk gaji ke-13 telah ditetapkan sebesar Rp50,8 triliun. Total keduanya naik signifikan dibanding 2023 karena pada tahun ini tunjangan kinerja diberikan 100% ditambah kenaikan gaji ASN/PNS 8% dan kenaikan nilai untuk pensiunan 12%. 

(rui/aji)

No more pages