Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (28/5/2024), dibuka menguat. Pada pukul 9.15 WIB, indeks mencatatkan kenaikan luar biasa mencapai 94,49 poin atau setara dengan melesat 1,31% ke level 7.270.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan tercatat 1,99 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,32 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 133.245 kali.
Sebanyak 215 saham menguat dan 161 saham melemah. Sementara, 182 saham tidak bergerak.
Sejatinya, sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari dalam negeri. Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) pada April 2024 di mana nilai pendapatan negara mencatat penurunan secara tahunan imbas dari melemahnya harga komoditas global, meski masih mencatat surplus.
Adapun RI mencatat penurunan pendapatan negara akibat anjloknya harga komoditas global yang mempengaruhi profitabilitas Badan Usaha di sektor tambang dan alhasil menurunkan setoran pajak Badan Usaha.
Penerimaan pajak turun di semua jenis, mulai dari Pajak Penghasilan (PPH) Non-Migas yang turun 8,25%, lalu pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNBM) yang juga anjlok 8,95%. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak lain-lain juga anjlok 21,34%, disusul penurunan PPH Migas hingga 23,2%.
"Perusahaan-perusahaan dengan harga komoditas yang turun ada penurunan profitabilitas sehingga (Setoran) pajak juga mengalami penurunan, terutama di pertambangan," jelas Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam jumpa pers APBNKita di Jakarta, Senin kemarin.
Pendapatan negara pada April mencapai Rp924,9 triliun atau 33% dari target, dengan data tersebut, realisasi penerimaan negara ini turun 7,6% dari periode yang sama pada tahun lalu, atau year-on-year/yoy.
Sementara Belanja Negara mencapai Rp849,2 triliun, melonjak 10,9% atau 25,5% dari pagu belanja yang ditetapkan.
Dengan demikian, pada April 2024, APBN mencatat surplus Rp75,7 triliun atau 0,33% dari estimasi Produk Domestik Bruto tahun ini.
"Kalau dilihat dari tingkat pendapatan negara terjadi penurunan dibandingkan tahun lalu yang memang kita dapatkan windfall dari kenaikan komoditas jadi ada 7,6% penurunan secara tahunan," katanya.
Menteri Keuangan RI menyatakan keseimbangan primer juga masih mencatat surplus yang masih sangat besar mencapai Rp237,1 triliun.
(fad/ain)