Bloomberg Technoz, Jakarta - Lembaga pemeringkat kredit global, Fitch Ratings, mewanti-wanti adanya potensi defisit Anggarapan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 2,9% di 2025.
Head of Asia-Pacific Sovereigns Thomas Rookmaaker mengatakan, perkiraan itu disampaikan sejalan dengan adanya rencana Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam merealisasikan janji kampanye, salah satunya program makan siang gratis.
"Kami meyakini pemerintah baru ini nampaknya akan belanja besar-besaran karena ada sejumlah janji kampanye yang berarti pengeluaran akan lebih tinggi," Thomas di sela panel diskusi Indonesia and Financial Institutions Outlook di Jakarta, Rabu (15/4/2024).
Meski begitu, Thomas mengatakan bahwa perkiraan tersebut masih merupakan risiko fiskal jangka menengah.

Pasalnya, kata dia, Indonesia, yang juga mendapat peringkat utang BBB dengan outlook stabil, angka utangnya masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara dengan peringkat yang sama.
Selain itu, kata Thomas, defisit APBN Indonesia pada 2023 juga tercatat masih berada di bawah 2%. Angka ini juga dibawah target perkiraan APBN yang sebesar 2,84%.
"Jadi kami memperkirakan defisit akan berada di 2,9% pada tahun 2025. Itu asumsi, masih ada beberapa ketidakpastian dalam hal itu," ujarnya.
Meski demikian, dia juga mewanti-wanti jika nantinya defisit APBN Indonesia berada di atas 3%, yang juga melampaui batas Undang-undang akan berimbas pada kenaikan rasio utang terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) Tanah Air.
Adapun, pada Maret lalu, Fitch mengganjar Indonesia dengan peringkat utang BBB, tidak berubah dari pemeringkatan pada periode sebelumnya.

Meski mempertahankan penilaiannya, Fitch Ratings memberi peringatan terhadap beberapa hal yang layak diperhatikan, yakni berakhirnya pesta harga komoditas global yang diperkirakan berdampak cukup besar bagi prospek pendapatan Indonesia ke depan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan akan menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu mengatakan belum dapat menilai apakah defisit APBN 2024 akan melebar atau tetap terjaga sesuai target.
“Masih terlalu dini, ini kan baru April ya, nanti kami kelola dengan baik. Kami cukup bisa mengelola risikonya dengan baik,” ujar Febrio belum lama ini.
Dia juga menegaskan pemerintah akan terus mengelola defisit APBN agar terjaga sesuai target yang sebelumnya telah ditetapkan. Terlebih, Febrio mengklaim pihaknya dapat mengelola risiko-risiko yang muncul dengan baik.
(ibn/roy)