Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga emas dunia melesat pada perdagangan kemarin. Rilis data ekonomi di Amerika Serikat (AS) menjadi pendorong kenaikan harag sang logam mulia.
Pada Kamis (9/5/2024), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.346,5/troy ons. Melonjak 1,63% dibandingkan sehari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 19 April atau sekira 3 pekan terakhir.
Pagi ini, Jumat (10/5/2024), harga emas masih cenderung stagnan. Pada pukul 07:09 WIB, harga turun 0,01% ke US$ 2.346,2/troy ons.
Dalam sepekan terakhir, harga emas kini naik 1,83% secara point-to-point. Namun selama sebulan ke belakang, harga turun 1,12%.

Rilis data ketenagakerjaan di Negeri Paman Sam mendongkrak harga emas. Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan, jumlah klaim tunjangan pengangguran (unemployment benefits) pada pekan yang berakhir 4 Mei adalah 231.000. Naik 22.000 dan menjadi yang tertinggi sejak Agustus tahun lalu.
Angka ini juga berada di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan di 210.000. Sekaligus jadi yang pertama berada di atas ekspektasi selama 4 pekan terakhir.
Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar makin yakin bahwa Bank Sentral Federal Reserve bisa menurunkan suku bunga acuan tahun ini. Mengutip CME FedWatch, The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga acuan pada September dan Desember dengan peluang masing-masing 49,1% dan 36,7%.
“Apa yang kita lihat (kenaikan harga emas) adalah dampak dari ekspektasi terhadap penurunan Federal Funds Rate, atau kapan suku bunga bisa diturunkan,” ujar David Meger, Direktur di High Ridge Futures, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Penurunan suku bunga akan menjadi sentimen positif bagi emas. Maklum, emas adalah aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) yang diuntungkan dalam iklim suku bunga rendah.
Analisis Teknikal
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas kembali masuk zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 75,95.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun perlu diperhatikan RSI di atas 70 juga menjadi sinyal sudah jenuh beli (overbought).
Posisi overbought terkonfirmasi pula dengan indikator Stochastic RSI yang sudah menyentuh 100. Sudah maksimal, sudah sangat jenuh beli,
Oleh karena itu, risiko koreksi harga emas pun meninggi. Target support terdekat adalah US$ 2.340/troy ons. Jika tertembus, maka US$ 2.328/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.
Sementara target resisten terdekat ada di US$ 2.349/troy ons yang jika tertembus berpotensi membawa harga emas naik menuju US$ 2.350/troy ons. Ruang kenaikan harga emas memang sudah terbatas.
(aji)